ROMBONGAN
yang berada di dalam bus tipe B ikut terombang-ambing. Jalanan yang tidak
terawat dan berkelok-kelok menjadi saksi untuk menuju salah satu pantai yang
terdapat di Banten, Jawa Barat. Ditambah dengan gelap gulitanya keadaan diluar,
saya semakin penasaran.
Dari Tangerang menuju
Sawarna memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kami semua memutuskan
untuk berangkat malam. Pukul 19.00 WIB saya dan rombongan berangkat.
“Ya semuanya, mari kita
berdoa dulu menurut agama dan masing-masing demi kelancaran perjalanan kita
bersama.....” suara toa itu terdengar dari salah seorang ketua panitia kami.
Rasa penasaran selalu
menghantui saya yang ingin segera sampai. Menuju Sawarna tidak semudah yang
dibayangkan. Kami harus melewati jalanan berbatu, berbelok, turunan, tanjakan,
ditambah dengan tidak ada penunjuk jalan yang tersedia serta keadaan yang
sangat gelap gulita.
Yang hanya bisa saya
lakukan selama perjalanan berlangsung hanyalah tidur. Mau diapakan lagi, karena
saat itu berangkat sudah larut malam.
Sekitar 11 jam
perjalanan menuju Desa Sawarna. Pantai yang memiliki keindahan pasir putih ini
berada di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berjarak 150 km dari
Rangkasbitung.
Jarum jam tangan saya
sudah mengarah ke angka setengah enam pagi. Saya dan rombongan sampai di desa
Sawarna. Menuju desa ini pun tidak mudah, ada beberapa tantangan yang harus
dilewati. Jembatan gantung yang dibawahnya adalah sungai deras menjadi jalan
penghubung untuk menuju rumah penginapan kami. Dengan rasa was-was saya pun
harus melewatinya.
“eh pelan-pelan jangan
banyak-banyak dulu, coba deh 6 orang dulu. Takut jembatannya goyang nih”,
teriak Joan salah seorang panitia makrab kami.
Kebingungan sempat
melanda pikiran saya, desa yang saya injak saat itu tidak menampakan ombak
pantai sama sekali. Pohon tinggi, sawah menjulang dan rumah penduduk lah yang
terlihat dimata saya. Seperti berada di pegunungan, bukan di daerah pantai.
Butuh waktu sekitar
5-10 menit dari Bus yang saya turuni hingga menuju rumah penginapan kami.
“sekarang kalian
istirahat dulu saja, nanti kita jalan lagi jam 9 ya”, suara toa itu terdengar
kembali di telinga saya. Kali ini Vino, salah satu panitia makrab yang mencoba
untuk bersuara.
Terik matahari pagi
sudah menusuk kepala saya, tanpa membuang waktu lama kami bergegas menuju Goa
Lalai.
Dengan memakai kaos
santai dan celana pendek yang dialasi sandal jepit, kami siap menerjang panas
demi masuk ke salah satu Goa yang ada di Sawarna. Goa Lalay merupakan salah
satu tempat wisata yang sering dikunjungi turis-turis.
“yah kira kira 3 km lah
kita jalan sampe sana, deket kan?” ujar Ari salah seorang tour guide yang kami pakai.
Keringat mulai memenuhi
badan saya, ditambah dengan sinar matahari yang sangat menyengat kepala saya
saat menuju Goa Lalay. Adrenalin saya berpacu dengan rasa penasaran untuk
memasuki Goa Lalay.
Jalan menuju Goa, tidak
seburuk apa yang saya bayangkan. Hamparan sawah, pepohonan hijau yang
menjulang, suara ayam serta angsa, kambing selalu terdengar di telinga saya.
Ya, kami melewati desa-desa yang para warganya memliki hewan ternak.
Warga memanfaatkan
sungai di pinggir jalan yang saya lalui untuk mencuci pakaiannya. Sungguh
suasana yang asri, seperti tidak berada di wilayah pantai.
Gemericik air dan
alirannya mulai terdengar di telinga saya, bangunan batu besar pun sudah mulai
terlihat. Akhirnya kami sampai.
“kalau bisa, jangan
bawa kamera, titipkan saja disini, oiya sandalnya dilepas ya. Barang-barang
seperti tas, titipkan saja disini”, tutur salah seorang tour guide yang
menemani kami untuk masuk kedalam.
Satu persatu kami jalan
memasuki Goa Lalai. Udara yang lembab, air yang dingin serta keadaan yang gelap
mulai saya rasakan. Goa Lalai dipadati dengan batu kristal di dalamnya,batu
kristal berwarna putih memadati Goa ini.
Didalamnya sudah
dipenuhi dengan kelelawar, dan sejenis binatang Goa lainnya. Harus hati-hati
berjalan di Goa ini, dan harus bisa menjaga omongan. Jangan ngomong
sembarangan, pamali.
“jangan lupa kasih
salam dulu pas udah didalam goa ya, jaga omongannya, jangan sembarangan”, tutur
Selamet, ia sudah biasa mengantarkan para pengunjung untuk berjalan mengitari
Goa ini.
Asyik mengitari Goa,
kami pun kembali ke penginapan. Butuh tenaga yang ekstra, karena keadaan diluar
semakin panas menyengat.
Pukul tiga sore, kami
lanjut jalan menuju pantai Tanjung
Layar. Pantai ini merupakan pantai yang menjadi tujuan utama para turis atau
pengunjung kesini.
Sesampainya disana,
kami disuguhkan dengan keindahan pasir putihnya. Pantainya pun masih bersih,
tidak banyak memang turis yang kesini. Salah satu faktornya mungkin karena
akses jalanan ke Sawarna tidak begitu jelas dan berliku.
Disuguhkan dengan dua
buah batu yang berdiri dengan tegak di tengah laut, saya langsung mengambil
gambar. Tak hanya itu, saya dan rombongan menikmati keindahan pantai Tanjung
Layar sambil menunggu sunset.
Hari kedua, ini
merupakan hari terakhir saya berada di Sawarna. Koper dan tas yang saya bawa
semuanya sudah tertata rapih, saya pun siap untuk pulang kerumah. Melewati
jalan berkelok, rusak dan disampingnya dengan hutan-hutan harus kami lewati.
Sebelum pulang, kami
mengunjungi pantai Karang Taraje. Tidak kalah menakjubkan dengan Tanjung Layar,
keindahan Karang Taraje ada pada ombak dan batu besar yang terdapat diatas pasir.
Pasir putih tetap menjadi ciri khas pantai ini.
11 jam pun harus kami
tempuh kembali menuju kampus.
Niza Sari Pratiwi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar