Kamis, 10 April 2014

Dua Buah Batu Tinggi ditengah Pantai


ROMBONGAN yang berada di dalam bus tipe B ikut terombang-ambing. Jalanan yang tidak terawat dan berkelok-kelok menjadi saksi untuk menuju salah satu pantai yang terdapat di Banten, Jawa Barat. Ditambah dengan gelap gulitanya keadaan diluar, saya semakin penasaran.

Dari Tangerang menuju Sawarna memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kami semua memutuskan untuk berangkat malam. Pukul 19.00 WIB saya dan rombongan berangkat.

“Ya semuanya, mari kita berdoa dulu menurut agama dan masing-masing demi kelancaran perjalanan kita bersama.....” suara toa itu terdengar dari salah seorang ketua panitia kami.  

Rasa penasaran selalu menghantui saya yang ingin segera sampai. Menuju Sawarna tidak semudah yang dibayangkan. Kami harus melewati jalanan berbatu, berbelok, turunan, tanjakan, ditambah dengan tidak ada penunjuk jalan yang tersedia serta keadaan yang sangat gelap gulita.

Yang hanya bisa saya lakukan selama perjalanan berlangsung hanyalah tidur. Mau diapakan lagi, karena saat itu berangkat sudah larut malam.

Sekitar 11 jam perjalanan menuju Desa Sawarna. Pantai yang memiliki keindahan pasir putih ini berada di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berjarak 150 km dari Rangkasbitung.

Jarum jam tangan saya sudah mengarah ke angka setengah enam pagi. Saya dan rombongan sampai di desa Sawarna. Menuju desa ini pun tidak mudah, ada beberapa tantangan yang harus dilewati. Jembatan gantung yang dibawahnya adalah sungai deras menjadi jalan penghubung untuk menuju rumah penginapan kami. Dengan rasa was-was saya pun harus melewatinya.

“eh pelan-pelan jangan banyak-banyak dulu, coba deh 6 orang dulu. Takut jembatannya goyang nih”, teriak Joan salah seorang panitia makrab kami.

Kebingungan sempat melanda pikiran saya, desa yang saya injak saat itu tidak menampakan ombak pantai sama sekali. Pohon tinggi, sawah menjulang dan rumah penduduk lah yang terlihat dimata saya. Seperti berada di pegunungan, bukan di daerah pantai.

Butuh waktu sekitar 5-10 menit dari Bus yang saya turuni hingga menuju rumah penginapan kami.

“sekarang kalian istirahat dulu saja, nanti kita jalan lagi jam 9 ya”, suara toa itu terdengar kembali di telinga saya. Kali ini Vino, salah satu panitia makrab yang mencoba untuk bersuara.

Terik matahari pagi sudah menusuk kepala saya, tanpa membuang waktu lama kami bergegas menuju Goa Lalai.

Dengan memakai kaos santai dan celana pendek yang dialasi sandal jepit, kami siap menerjang panas demi masuk ke salah satu Goa yang ada di Sawarna. Goa Lalay merupakan salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi turis-turis.

“yah kira kira 3 km lah kita jalan sampe sana, deket kan?” ujar Ari salah seorang tour guide yang kami pakai.

Keringat mulai memenuhi badan saya, ditambah dengan sinar matahari yang sangat menyengat kepala saya saat menuju Goa Lalay. Adrenalin saya berpacu dengan rasa penasaran untuk memasuki Goa Lalay.

Jalan menuju Goa, tidak seburuk apa yang saya bayangkan. Hamparan sawah, pepohonan hijau yang menjulang, suara ayam serta angsa, kambing selalu terdengar di telinga saya. Ya, kami melewati desa-desa yang para warganya memliki hewan ternak.

Warga memanfaatkan sungai di pinggir jalan yang saya lalui untuk mencuci pakaiannya. Sungguh suasana yang asri, seperti tidak berada di wilayah pantai.

Gemericik air dan alirannya mulai terdengar di telinga saya, bangunan batu besar pun sudah mulai terlihat. Akhirnya kami sampai.

“kalau bisa, jangan bawa kamera, titipkan saja disini, oiya sandalnya dilepas ya. Barang-barang seperti tas, titipkan saja disini”, tutur salah seorang tour guide yang menemani kami untuk masuk kedalam.

Satu persatu kami jalan memasuki Goa Lalai. Udara yang lembab, air yang dingin serta keadaan yang gelap mulai saya rasakan. Goa Lalai dipadati dengan batu kristal di dalamnya,batu kristal berwarna putih memadati Goa ini.

Didalamnya sudah dipenuhi dengan kelelawar, dan sejenis binatang Goa lainnya. Harus hati-hati berjalan di Goa ini, dan harus bisa menjaga omongan. Jangan ngomong sembarangan, pamali.

“jangan lupa kasih salam dulu pas udah didalam goa ya, jaga omongannya, jangan sembarangan”, tutur Selamet, ia sudah biasa mengantarkan para pengunjung untuk berjalan mengitari Goa ini.

Asyik mengitari Goa, kami pun kembali ke penginapan. Butuh tenaga yang ekstra, karena keadaan diluar semakin panas menyengat.

Pukul tiga sore, kami lanjut  jalan menuju pantai Tanjung Layar. Pantai ini merupakan pantai yang menjadi tujuan utama para turis atau pengunjung kesini.

Sesampainya disana, kami disuguhkan dengan keindahan pasir putihnya. Pantainya pun masih bersih, tidak banyak memang turis yang kesini. Salah satu faktornya mungkin karena akses jalanan ke Sawarna tidak begitu jelas dan berliku.

Disuguhkan dengan dua buah batu yang berdiri dengan tegak di tengah laut, saya langsung mengambil gambar. Tak hanya itu, saya dan rombongan menikmati keindahan pantai Tanjung Layar sambil menunggu sunset.

Hari kedua, ini merupakan hari terakhir saya berada di Sawarna. Koper dan tas yang saya bawa semuanya sudah tertata rapih, saya pun siap untuk pulang kerumah. Melewati jalan berkelok, rusak dan disampingnya dengan hutan-hutan harus kami lewati.

Sebelum pulang, kami mengunjungi pantai Karang Taraje. Tidak kalah menakjubkan dengan Tanjung Layar, keindahan Karang Taraje ada pada ombak dan batu besar yang terdapat diatas pasir. Pasir putih tetap menjadi ciri khas pantai ini.


11 jam pun harus kami tempuh kembali menuju kampus. 


Niza Sari Pratiwi