Jumat, 03 Mei 2013

Usia Tak Menjadi Halangan


Oleh Niza Sari Pratiwi






WANITA yang mengenakan topi bundar terbuat dari bambu itu menggerakan sapu nya ke depan dan belakang. Dia hanya mengenakan kaos seadanya yang sudah melar dan besar di badan nya yang ringkih. Sesekali ia mengelap keringat yang keluar dari wajah nya yang sudah tidak muda lagi.

Jalanan saat itu memang dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang melewati wanita tersebut. Dedaunan yang sudah mengering berjatuhan dan mengarah kepada nya. Debu yang mengotori wajah nya seakan sudah tidak ia hiraukan lagi.

Siang itu saya melihat wanita tersebut sendiran membersihkan jalan yang berada di kota Tangerang Selatan, BSD. Melihat badan nya yang sudah tidak muda lagi saya tidak menyangka kalau ia adalah seorang pembersih jalanan.

Wanita tadi tak lain Siti Munaroh. Sudah lebih dari 10 tahun ia memilih bekerja sebagai Penyapu Jalanan yang berada di daerah BSD. Umur nya yang sudah mencapai 68 tahun membuat saya takjub dengan profesi yang ia geluti sekarang.

Awalnya saya sedang mengambil gambar untuk tugas, namun saya melihat wanita yang bernama Siti menyapu jalanan yang tidak kecil, di tengah terik panas nya matahari saat itu.

“Lihat jalanan kotor seperti ini ya saya harus segera membersihkan nya”, ujar wanita itu kepada saya.

Mak Siti memang bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Pendidikan nya berakhir di Sekolah Menengah Pertama. Ia tinggal dengan ke lima cucu nya dan satu orang anak nya yang sudah memiliki keluarga.

“Mau bagaimana lagi neng, untuk mencukupi kebutuhan ke lima cucu saya dan anak saya, pekerjaan ini lah yang hanya bisa saya kerjakan”. Tutur beliau sambil membenarkan topi bambu nya.

Wanita itu awalnya menggeluti pekerjaan sebagai pencuci pakaian keliling. Sampai berumur 50 ia memilih berhenti dari pekerjaan nya.

Risma adalah anak satu-satu nya yang masih tinggal bersama Siti di rumah yang sangat sederhana yang berada di Rawa Buntu, Tangerang Selatan. Risma lah yang meneruskan jejak Ibu nya sebagai pencuci pakaian keliling di kampung nya.

Sekitar tahun 2000, Siti mulai mencari pekerjaan lain, dan pada akhirnya ia memilih menjadi penyapu jalanan. Gaji nya yang tidak seberapa dan sangat minim tidak membuat wanita ringkih itu menyerah untuk menyapu jalan raya yang ada di daerah BSD.

“Kalau capek, saya selalu istirahat di bawah pohon. Biasa.... beli minuman dingin atau membeli nasi bungkus disana”, ujar Siti sambil menunjuk ke bangunan kecil dan kotak itu.

“Saya mah asli tangerang, Ibu dan Bapak saya orang Sukabumi, dari kecil saya disini, jadi udah apal banget dah daerah sini mah”, kata wanita itu sambil tertawa, seolah-olah menunjukan gigi nya yang sudah jarang terlihat.

Wanita ini mulai menyapu jalan pukul lima pagi dini hari hingga pukul empat sore dan mengaku memiliki pengalaman selama bekerja sebagai penyapu jalan raya.

Dedaunan, ranting, dan sampah yang bertebaran di jalanan sekejap hilang. Namun, benda itu terkadang muncul kembali di hadapannya.

Tak kenal kata lelah, wanita yang lahir di Sukabumi, mengaku sudah lupa tanggal berapa ia lahir. Namun unik nya, ia mengetahui umur nya. Ya, 68 tahun.

“Aduh saya lupa, saya itu lahir tanggal berapa dan bulan apa, maklum faktor umur. Yang saya ingat ya saya sekarang berumur 68 tahun”, ujar beliau sambil menganggukan kepala nya.

Sesekali ada yang memberi nya makanan dan minuman, pada saat ia sedang membersihkan jalan raya itu. Tak hanya itu, ia juga mengaku pernah di beri uang saku kepada orang-orang yang melewati jalan raya itu.

“Rejeki emang nggak kemana neng, saya pernah di belikan makanan dan minuman, bahkan di beri uang saku. Ya alhamdulillah saja buat nambahin pemasukan”, kata Siti dengan nada bicara pelan layaknya wanita yang sudah memiliki umur yang tidak muda lagi.

Selain di tempat biasa ia membersihkan jalanan, depan sekolah Cikal Harapan. Ia juga sering menyapu jalan raya di depan tempat olah raga, Taman Kota.

Siti, atau yang bisa disebut Mak Siti mengaku kesulitan menyapu jalanan di depan Taman Kota, sampah yang berada di jalan itu lebih banyak ketimbang di depan sekolah Cikal.

Mengingat umur nya yang sudah rentan dan tidak muda lagi, itu lah yang menjadi tantangan dalam pekerjaan nya sekarang. Karena memang sudah tugas nya menyapu jalan raya yang membutuhkan waktu lama.

“Capek sih iya neng pasti, tapi kan ini sudah menjadi kewajiban saya membersihkan nya”, kata mak Siti sambil menyapu sampah yang ada.

Didi, Ali, Ina, Uti dan Adi adalah cucu mak Siti yang tinggal bersama nya. Bagi nya, pekerjaan yang ia geluti saat ini memang memiliki gaji yang tidak seberapa. Demi memenuhi kebutuhan ke-lima cucu nya dan anak nya, ia sampai banting tulang, bersama anak perempuannya.

“Nggak peduli usia saya yang sudah tua ini, yang penting cucu dan anak saya bisa makan dan sekolah”.

Sapu yang ia pegang kembali digerakan oleh mak Siti. Kedepan, belakang, dan samping. Tak peduli panas nya terik matahari yang menusuk topi bundar bambu nya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar