Oleh
Niza Sari Pratiwi
WANITA yang mengenakan topi bundar terbuat dari bambu itu menggerakan sapu nya ke depan dan belakang. Dia hanya mengenakan kaos seadanya yang sudah melar dan besar di badan nya yang ringkih. Sesekali ia mengelap keringat yang keluar dari wajah nya yang sudah tidak muda lagi.
Jalanan saat itu memang
dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang melewati wanita tersebut. Dedaunan yang
sudah mengering berjatuhan dan mengarah kepada nya. Debu yang mengotori wajah
nya seakan sudah tidak ia hiraukan lagi.
Siang itu saya melihat
wanita tersebut sendiran membersihkan jalan yang berada di kota Tangerang
Selatan, BSD. Melihat badan nya yang sudah tidak muda lagi saya tidak menyangka
kalau ia adalah seorang pembersih jalanan.
Wanita tadi tak lain
Siti Munaroh. Sudah lebih dari 10 tahun ia memilih bekerja sebagai Penyapu
Jalanan yang berada di daerah BSD. Umur nya yang sudah mencapai 68 tahun membuat
saya takjub dengan profesi yang ia geluti sekarang.
Awalnya saya sedang
mengambil gambar untuk tugas, namun saya melihat wanita yang bernama Siti
menyapu jalanan yang tidak kecil, di tengah terik panas nya matahari saat itu.
“Lihat jalanan kotor
seperti ini ya saya harus segera membersihkan nya”, ujar wanita itu kepada
saya.
Mak Siti memang bukan
berasal dari keluarga yang berkecukupan. Pendidikan nya berakhir di Sekolah
Menengah Pertama. Ia tinggal dengan ke lima cucu nya dan satu orang anak nya
yang sudah memiliki keluarga.
“Mau bagaimana lagi
neng, untuk mencukupi kebutuhan ke lima cucu saya dan anak saya, pekerjaan ini
lah yang hanya bisa saya kerjakan”. Tutur beliau sambil membenarkan topi bambu
nya.
Wanita itu awalnya
menggeluti pekerjaan sebagai pencuci pakaian keliling. Sampai berumur 50 ia
memilih berhenti dari pekerjaan nya.
Risma adalah anak
satu-satu nya yang masih tinggal bersama Siti di rumah yang sangat sederhana
yang berada di Rawa Buntu, Tangerang Selatan. Risma lah yang meneruskan jejak
Ibu nya sebagai pencuci pakaian keliling di kampung nya.
Sekitar tahun 2000,
Siti mulai mencari pekerjaan lain, dan pada akhirnya ia memilih menjadi penyapu
jalanan. Gaji nya yang tidak seberapa dan sangat minim tidak membuat wanita
ringkih itu menyerah untuk menyapu jalan raya yang ada di daerah BSD.
“Kalau capek, saya
selalu istirahat di bawah pohon. Biasa.... beli minuman dingin atau membeli
nasi bungkus disana”, ujar Siti sambil menunjuk ke bangunan kecil dan kotak
itu.
“Saya mah asli tangerang,
Ibu dan Bapak saya orang Sukabumi, dari kecil saya disini, jadi udah apal
banget dah daerah sini mah”, kata wanita itu sambil tertawa, seolah-olah
menunjukan gigi nya yang sudah jarang terlihat.
Wanita ini mulai
menyapu jalan pukul lima pagi dini hari hingga pukul empat sore dan mengaku
memiliki pengalaman selama bekerja sebagai penyapu jalan raya.
Dedaunan, ranting, dan
sampah yang bertebaran di jalanan sekejap hilang. Namun, benda itu terkadang
muncul kembali di hadapannya.
Tak kenal kata lelah,
wanita yang lahir di Sukabumi, mengaku sudah lupa tanggal berapa ia lahir.
Namun unik nya, ia mengetahui umur nya. Ya, 68 tahun.
“Aduh saya lupa, saya
itu lahir tanggal berapa dan bulan apa, maklum faktor umur. Yang saya ingat ya
saya sekarang berumur 68 tahun”, ujar beliau sambil menganggukan kepala nya.
Sesekali ada yang
memberi nya makanan dan minuman, pada saat ia sedang membersihkan jalan raya
itu. Tak hanya itu, ia juga mengaku pernah di beri uang saku kepada orang-orang
yang melewati jalan raya itu.
“Rejeki emang nggak
kemana neng, saya pernah di belikan makanan dan minuman, bahkan di beri uang
saku. Ya alhamdulillah saja buat nambahin pemasukan”, kata Siti dengan nada
bicara pelan layaknya wanita yang sudah memiliki umur yang tidak muda lagi.
Selain di tempat biasa
ia membersihkan jalanan, depan sekolah Cikal Harapan. Ia juga sering menyapu
jalan raya di depan tempat olah raga, Taman Kota.
Siti, atau yang bisa
disebut Mak Siti mengaku kesulitan menyapu jalanan di depan Taman Kota, sampah
yang berada di jalan itu lebih banyak ketimbang di depan sekolah Cikal.
Mengingat umur nya yang
sudah rentan dan tidak muda lagi, itu lah yang menjadi tantangan dalam
pekerjaan nya sekarang. Karena memang sudah tugas nya menyapu jalan raya yang
membutuhkan waktu lama.
“Capek sih iya neng
pasti, tapi kan ini sudah menjadi kewajiban saya membersihkan nya”, kata mak
Siti sambil menyapu sampah yang ada.
Didi, Ali, Ina, Uti dan
Adi adalah cucu mak Siti yang tinggal bersama nya. Bagi nya, pekerjaan yang ia
geluti saat ini memang memiliki gaji yang tidak seberapa. Demi memenuhi
kebutuhan ke-lima cucu nya dan anak nya, ia sampai banting tulang, bersama anak
perempuannya.
“Nggak peduli usia saya
yang sudah tua ini, yang penting cucu dan anak saya bisa makan dan sekolah”.
Sapu yang ia pegang
kembali digerakan oleh mak Siti. Kedepan, belakang, dan samping. Tak peduli
panas nya terik matahari yang menusuk topi bundar bambu nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar