“Laki-laki pembeli seks
biang kerok epidemi HIV”. Seluruh aktivis memegangi tulisan bertinta hitam itu
yang terpajang jelas di sebuah papan berwarna kuning terang menyolok di depan
patung yang menandakan selamat datang (bundaran
HI) untuk merayakan hari AIDS sedunia.
Siang itu, Sabtu 1
Desember 2012 ditengah panas nya matahari yang menusuk kepala saya terlihat
ribuan massa aktivis sosial dari Jaringan Aksi Perubahan Indonesia memadati
bundaran Hotel Indonesia, (HI), Jakarta.
Suara teriakan dan
nyanyian “WTO... WTO... WTO” sudah menggelegarkan telinga saya, pakaian nya pun
seragam. Semua berwarna putih.
Pita merah yang
menandakan bentuk kepedulian kita terhadap HIV AIDS menempel di baju para
aktivis yang datang. Ya, semua memakai baju itu.
Setelah menunggu
kerumunan aktivis kurang lebih setengah jam, akhirnya saya dan ke tiga teman
lainnya ikut meramaikan orasi untuk memperingati hari AIDS sedunia ini dengan
bermodalkan kamera dan saya pun mengambil gambar.
Pukul 2 siang, awal
aksi tersebut telah terlihat dari arah Dukuh Atas. Massa perlahan-lahan
memutari bundaran HI, selanjutnya melakukan kampanye dan aksi orasi tentag
bahaya penyebaran virus epidemi AIDS yang menyebar dan mengecam anak bangsa.
Massa yang turun
melakukan orasi pun membawa replika boneka bayi, kereta sorong bayi, dan ada
pula yang membawa keranda mayat yang bertuliskan HIV AIDS.
Laki-laki berbaju hitam
putih bergaris yang di bredel dan masuk ke sebuah replika penjara menandakan pembeli
seks harus di berikan sanksi yang kuat. Tema orasi kali ini ialah Selamatkan
Perempuan dan Anak dari HIV AIDS.
“Saya memperingati hari
HIV, ya ingin turut serta aja dalam meramaikan kepedulian pada aksi hari ini”,
kata Jony Cory salah seorang peserta aksi hari AIDS saat itu.
Saat itu matahari disana
sangat menyengat kepala saya, keringat bermunculan dari wajah. Rasa haus tak
lupa terasa dari mulut saya.
Monumen yang
bergambarkan patung selamat datang, siang itu penuh dengan lautan manusia dan
menghambat jalanan saat itu.
Walaupun kampanye orasi
ini bersifat damai dan tidak ada nya kekerasan. Puluhan polisi pun ikut
mengantisipasi jika terjadi nya hal yang tidak diinginkan nanti nya.
Saya ikut mengitari
Bundaran HI, dan turut serta meneriakan “selamatkan perempuan dan anak dari HIV
AIDS, yeaaah!” sambil mengelap keringat dan mengambil gambar.
Sekitar 11 perwakilan
aktivis penggiat sosial provinsi dari Indonesia, bergabung dalam aksi hari itu.
Para orator menyampaikan korban paling banyak dari perempuan dan anak-anak yang
ditularkan langsung dari laki-laki pembeli seks.
Asal
mula HIV AIDS
HIV merupakan
kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini biasanya menular jika
sering berganti pasangan dan melakukan hubungan intim. Sedangkan AIDS ialah
Acquaired Immune Deficiency Syndrome. Dan WTO ialah World Trade Organization.
Hari AIDS sedunia
pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter,
dua pejabat informasi masyarakat untuk program AIDS Global di Organisasi Kesehatan
Sedunia di Geneva, Swiss.
Bunn dan Netter
menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Program AIDS Global.
Lalu ia menyukai konsep itu dan menyetujui dan sepakat kalau Hari AIDS Sedunia
akan diselenggarakan pada 1 desember 1988.
Akhirnya Bunn
menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita
barat, sesuatu yang diyakini nya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS
sedunia.
Sejak saat itulah
masyarakat melakukan peringatan hari AIDS dan mereka sadar akan serius nya
penyakit itu yang berasal dari virus dan penyembuhannya pun memakan waktu yang
sangat lama. Bahkan di Indonesia saja belum ada obat nya.
****
“Masih banyak-santi santi lain yang menjadi
korban, saya positif dan menjadi korban virus HIV dari laki-laki pembeli sex
dan menularkannya kepada saya!,”
Suara wanita yang
bernama Santi, salah satu seorang peserta demo dari rombongan ODHA (Orang
dengan HIV AIDS) terdengar di gemuruh nya manusia yang berada di bundaran HI
siang itu.
Salah seorang orator memanggil
wanita yang bernama Indah Wulan. Orasi itu juga mendatangkan kementerian
pemberdayaan perempuan deputi PUG bidang Politik Sosial dan Hukum.
Wanita itu mengatakan
dengan suara yang lantang, kalau kampanye ini harus terus dilaksanakan agar ada
upaya penyadaran dan pencegahan serta penyebaran virus HIV AIDS.
Diperkirakan jumlah
korban semakin meningkat, saat ini saja terdapat enam sampai 10 juta orang
terinveksi HIV di dunia.
Suasana kembali memanas
saat terdapat salah seorang wanita peserta aksi yang bernama Novi dari ODHA
Terlihat jatuh pingsan dan tak sadakan diri.
Wanita itu menggunakan
buntalan diperutnya, seolah seorang ibu yang menjadi korban HIV AIDS dan akan
menularkan ke anak nya nanti.
Begitu banyak papan
yang bertuliskan mengenai HIV AIDS siang itu di Bundaran HI. Bendera dari
sebuah organisasi pun ikut dikibarkan di tengah-tengah lahan patung selamat
datang itu.
Teriakan dari para
aktivis menarik perhatian masyarakat yang melewati jalanan depan Hotel
Indonesia.
Tak mengenal kata lelah,
keringat yang mengucur, matahari yang menusuk tubuh. Kampanye sekaligus orasi
dari para aktivis menyadarkan saya akan bahaya nya virus ini.
Pencegahan memang harus
terus dilakukan, agar tidak banyak yang terjerat virus HIV AIDS ini. Virus yang
dapat mematikan impian manusia kedepan nya.
@Nizasp
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar