Senin, 27 Mei 2013

Selamat datang, 20 tahun!

Haaaaa alhamdulillah gue masih diberikan umur panjang sama Allah SWT karena tanggal 25 Mei 2013 kemaren gue baru aja bertambah umur dan ulang tahun yang ke 20. YEY YEY YEEEY! Dulu, waktu gue masih SD, SMP atau SMA ngedenger orang yang udah umur 20 tahun kayanya tuh tuaaa banget gitu kaya udah siap kerja, udah punya penghasilan sendiri dan udah siap ngurus anak -_-. Nah sekarang gue yang umur 20 tahun tapi gue masih kaya gini, masih yang males mikirin yang aneh dan ribet, maksut nya masa depan hahahaha! Ga deng, eh apasih.

Waktu hari sabtu tanggal 25 Mei kemaren ceritanya temen-temen SMA gue, sahabat gue dari SMP dan SMA sampe sekarang, dateng gitu deh ke rumah gue :D. Seneng banget akhirnya bisa ketemu mereka lagi (kecuali Rana dan Hesi) mereka mah udah bosen, soalnya gue sama Rana dan Hesi satu kampus zzz! Oke lanjut, jadi ceritanya itu gue abis mandi tuh jam 11an gitu, lagi sibuk balesin bbm (cie bbm nya rame) ya ngebalesin ucapan dari yang lainnya. Bener-bener ga ada firasat sama sekali mereka bakalan dateng ngasih surprise hahahaha karena gue mikirnya mereka pasti lagi pada sibuk tugas lah, kuliah lah apa lah, orang kalo diajak ketemu aja pada gabisa huhuhuhu! Eh tau nyaaaa mereka menyempatkan waktu untuk kasih gue kue dan kado di ulangtahun yang ke 20 ini! Asiiiik! Seneng sih ya pasti lah ya, siapa sih yang ga seneng kalo dikasih surprise? Apalagi sama sahabat lo yang udah lama ga ketemu.

Jadi itu yang pada dateng kerumah ada enam anak! ada Uta, Oby, Tari, Rana, Hesi, dan Fila :) iiih ga nyangka sih abis ga ada feeling sama sekali mereka bakalan dateng. Seperti biasa mereka membawakan kue ulang tahun dan beberapa kado yeeeey. Oh iya ini foto nya :


Ini mereka! tanpa Fila :( karena dia udah pulang duluan, ada urusan katanya! hufff. 

Nah itu foto nya, itu dikamar gue (ga nanya) itu tanpa Fila abis dia sibuk sih, dia udah balik duluan. Sebenernya yang ada dia nya ada sih, tapi gue nya ga megang kue hahahaha dan itu ada di hp gue ga sempet gue pindahin. Maaf ya Fila :(. Nanti kalo sempet gue pindahin ke sini deh hihi. 

Oiyaaaa yang gue seneng nya lagi, mereka ngasih gue kado yang berbau London. Yeyyyy gue seneng banget! nih kado dari mereka (Uta, Tari, Oby, Fila, Rana dan Hesi) :D 


Ini kado nya dari mereka yey!

Itu dia deh foto foto gue pas sabtu kemaren, abis itu kebetulan banget nyokap dan embak gue lagi bikin nasi kuning. Yaudah mereka gue traktir itu aja, dirumah. Hahahahaha mereka pada makan nasi kuning dan lauk  pendamping nya buatan embak gue! Jangan salah, itu enak banget. Ga boong gue. Ga percaya? Yaudah.. 

Yaaa harapan nya di umur 20 tahun ini, gue bisa sukses kedepannya, sukses kuliah nya, dan di sehat kan, dipanjangkan umur nya karena harus ngebanggain orang tua dulu dan semoga lancar di segala hal. Aamiin Ya robbal alamin deh.

Yaudah segitu dulu deh gue cerita nya. Thankyou Fila, Uta, Rana, Hesi, Oby dan Tari yang udah ngasih kue dan kado. I love you guys so much! Xoxo. Bye :D


@Nizasp


Selasa, 14 Mei 2013

Teriakan Aktivis di Sabtu Siang

oleh Niza Sari Pratiwi


“Laki-laki pembeli seks biang kerok epidemi HIV”. Seluruh aktivis memegangi tulisan bertinta hitam itu yang terpajang jelas di sebuah papan berwarna kuning terang menyolok di depan patung yang  menandakan selamat datang (bundaran HI) untuk merayakan hari AIDS sedunia.



Siang itu, Sabtu 1 Desember 2012 ditengah panas nya matahari yang menusuk kepala saya terlihat ribuan massa aktivis sosial dari Jaringan Aksi Perubahan Indonesia memadati bundaran Hotel Indonesia, (HI), Jakarta.

Suara teriakan dan nyanyian “WTO... WTO... WTO” sudah menggelegarkan telinga saya, pakaian nya pun seragam. Semua berwarna putih.

Pita merah yang menandakan bentuk kepedulian kita terhadap HIV AIDS menempel di baju para aktivis yang datang. Ya, semua memakai baju itu.

Setelah menunggu kerumunan aktivis kurang lebih setengah jam, akhirnya saya dan ke tiga teman lainnya ikut meramaikan orasi untuk memperingati hari AIDS sedunia ini dengan bermodalkan kamera dan saya pun mengambil gambar.

Pukul 2 siang, awal aksi tersebut telah terlihat dari arah Dukuh Atas. Massa perlahan-lahan memutari bundaran HI, selanjutnya melakukan kampanye dan aksi orasi tentag bahaya penyebaran virus epidemi AIDS yang menyebar dan mengecam anak bangsa.

Massa yang turun melakukan orasi pun membawa replika boneka bayi, kereta sorong bayi, dan ada pula yang membawa keranda mayat yang bertuliskan HIV AIDS.

Laki-laki berbaju hitam putih bergaris yang di bredel dan masuk ke sebuah replika penjara menandakan pembeli seks harus di berikan sanksi yang kuat. Tema orasi kali ini ialah Selamatkan Perempuan dan Anak dari HIV AIDS.

“Saya memperingati hari HIV, ya ingin turut serta aja dalam meramaikan kepedulian pada aksi hari ini”, kata Jony Cory salah seorang peserta aksi hari AIDS saat itu.

Saat itu matahari disana sangat menyengat kepala saya, keringat bermunculan dari wajah. Rasa haus tak lupa terasa dari mulut saya.

Monumen yang bergambarkan patung selamat datang, siang itu penuh dengan lautan manusia dan menghambat jalanan saat itu.

Walaupun kampanye orasi ini bersifat damai dan tidak ada nya kekerasan. Puluhan polisi pun ikut mengantisipasi jika terjadi nya hal yang tidak diinginkan nanti nya.

Saya ikut mengitari Bundaran HI, dan turut serta meneriakan “selamatkan perempuan dan anak dari HIV AIDS, yeaaah!” sambil mengelap keringat dan mengambil gambar.

Sekitar 11 perwakilan aktivis penggiat sosial provinsi dari Indonesia, bergabung dalam aksi hari itu. Para orator menyampaikan korban paling banyak dari perempuan dan anak-anak yang ditularkan langsung dari laki-laki pembeli seks.

Asal mula HIV AIDS
HIV merupakan kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini biasanya menular jika sering berganti pasangan dan melakukan hubungan intim. Sedangkan AIDS ialah Acquaired Immune Deficiency Syndrome. Dan WTO ialah World Trade Organization.

Hari AIDS sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss.

Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Program AIDS Global. Lalu ia menyukai konsep itu dan menyetujui dan sepakat kalau Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 desember 1988.

Akhirnya Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakini nya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS sedunia.

Sejak saat itulah masyarakat melakukan peringatan hari AIDS dan mereka sadar akan serius nya penyakit itu yang berasal dari virus dan penyembuhannya pun memakan waktu yang sangat lama. Bahkan di Indonesia saja belum ada obat nya.

****

 “Masih banyak-santi santi lain yang menjadi korban, saya positif dan menjadi korban virus HIV dari laki-laki pembeli sex dan menularkannya kepada saya!,”

Suara wanita yang bernama Santi, salah satu seorang peserta demo dari rombongan ODHA (Orang dengan HIV AIDS) terdengar di gemuruh nya manusia yang berada di bundaran HI siang itu.

Salah seorang orator memanggil wanita yang bernama Indah Wulan. Orasi itu juga mendatangkan kementerian pemberdayaan perempuan deputi PUG bidang Politik Sosial dan Hukum.

Wanita itu mengatakan dengan suara yang lantang, kalau kampanye ini harus terus dilaksanakan agar ada upaya penyadaran dan pencegahan serta penyebaran virus HIV AIDS.

Diperkirakan jumlah korban semakin meningkat, saat ini saja terdapat enam sampai 10 juta orang terinveksi HIV di dunia.

Suasana kembali memanas saat terdapat salah seorang wanita peserta aksi yang bernama Novi dari ODHA Terlihat jatuh pingsan dan tak sadakan diri.

Wanita itu menggunakan buntalan diperutnya, seolah seorang ibu yang menjadi korban HIV AIDS dan akan menularkan ke anak nya nanti.

Begitu banyak papan yang bertuliskan mengenai HIV AIDS siang itu di Bundaran HI. Bendera dari sebuah organisasi pun ikut dikibarkan di tengah-tengah lahan patung selamat datang itu.

Teriakan dari para aktivis menarik perhatian masyarakat yang melewati jalanan depan Hotel Indonesia.
Tak mengenal kata lelah, keringat yang mengucur, matahari yang menusuk tubuh. Kampanye sekaligus orasi dari para aktivis menyadarkan saya akan bahaya nya virus ini.



Pencegahan memang harus terus dilakukan, agar tidak banyak yang terjerat virus HIV AIDS ini. Virus yang dapat mematikan impian manusia kedepan nya.



@Nizasp

Rabu, 08 Mei 2013

Dari Tangerang ke Tasikmalaya.


Oleh Niza Sari Pratiwi

MOBIL hitam yang berdebu dan kotor namun dilengkapi dengan radio, melintasi jalanan yang berlubang dan rusak. Alat pendingin atau AC di kendaraan ini terkadang tidak ada rasanya. Terdengar bait lagu barat yang sudah tidak asing lagi, bersamaan dengan suara “Dum.. dum.. dum..” dari lagu itu, kaca spion mobil pun lepas.

Perjalanan menuju Kampung Naga memang sangat berliku dan tidak mulus. Kendaraan yang berukuran besar pun sering melintas dan mengakibatkan jalanan menjadi banyak yang berlubang.

“Aduh, kaca spion kiri nya lepas pasti gara-gara jalanan lubang tadi. Gimana dong??,” kata teman saya dengan nada suara panik.

Mobil kami mencoba untuk ke pinggir jalan, untuk melihat keadaan spion yang lepas. Dan menambal nya dengan lakban yang sudah tersedia di dalam kendaraan.

“Bener-bener mobil yang sudah tidak terawat”, celetuk teman saya sambil memasang spion dengan lakban untuk memperbaiki nya kembali.

Dengan kondisi jalanan yang masih gelap, saya sudah berada di mobil. Saya dan teman-teman mencoba berangkat dari Tangerang jam empat pagi, karena lokasi yang dituju, Kampung Naga, sangat jauh dari tempat tinggal kami.

Saya memang menyewa kendaraan untuk menuju ke Kampung Naga,Tasikmalaya, Jawa Barat. Melihat tempat itu sangat jauh maka kami sepakat untuk menyewa mobil di dekat rumah salah satu teman saya.

Tiga jam berlalu. Perjalanan saya hentikan sementara, dan berhenti di tempat  peristirahatan. Pom Bensin merupakan tempat peristirahatan yang kesekian kali nya kami berhenti.

Sekilas pom bensin ini tampak depan seperti biasa. Namun saat mobil kami parkir, saya melihat pemandangan yang tidak biasa. Seperti berada di New Zealand, saya tidak membuang waktu, langsung saja saya mengambil gambar di tempat ini.

Siapa bilang Jawa Barat tidak memiliki pemandangan yang indah? Bukti nya saja, di pom bensin ini terdapat udara dan pemandangan seperti nampak di luar negeri.

Asik mengambil gambar. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB siang, dan perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kali ini teman saya yang bernama Ronny yang gantian untuk menyetir.

Perjalanan dilanjutkan kembali, kalau bisa sore sudah berada di Kampung Naga. Agar bisa melihat kegiatan warga sana. Karena tujuan utama kami mengamati kebudayaan di kampung itu.

“Ada yang lapar dan belum sarapan? Gimana kalau kita cari makan, sekalian makan siang”, ujar salah satu teman saya.

Setengah jam berlangsung, dan waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Memang waktu nya untuk makan siang. Kendaraan pun dihentikan kembali. Kali ini ke salah satu rumah makan yang berada tidak jauh dari tempat terakhir kami berhenti.

Saya dan rombongan memang sudah berada di Garut, dan menuju Tasikmalaya sudah tidak jauh lagi. Makanya kami menyempatkan makan siang terlebih dahulu.

Saya mencoba salah satu makanan khas Garut, yaitu bubur ayam. Rasa bubur asli Garut dengan yang terdapat di dekat rumah saya memang berbeda. Bubur disini lengkap, ada telur, ati ayam dan dipenuhi dengan kecap manis. Ya, memang asli sana. Setelah mengisi perut, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Kira-kira 10 jam kami menempuh perjalanan menuju Tasikmalaya. Sangat lama, mungkin karena kebanyakan berhenti dan istirahat. Pukul tiga sore kami sampai di tempat tujuan, Kampung Naga.

Disana saya dan rombongan disambut oleh tour guide yang bernama mang Nok. Suasana yang benar-benar jarang saya dapatkan di Jakarta. Akhirnya saya rasakan di tempat ini.

Kampung Naga berada di Tasikmalaya, Jawa Barat. Warga disini masih sangat memegang teguh kebudayaan mereka dan sangat kental dengan ajaran adat yang diterapkan. Pepohonan, udara sejuk, rumah terbuat dari bambu dan atap dari ijuk memadati kampung ini.



“Silahkan neng, dimakan dulu atuh makanan nya”, ujar mak Asih, salah satu pemilik rumah yang akan saya tempati untuk menginap semalam.

Ayam goreng, sayur lodeh, tahu, tempe dan tak lupa dengan kerupuk khas Kampung Naga memenuhi tempat makan yang sudah disediakan. Rumah disini memang tidak memakai kursi, meja ataupun tempat tidur. Hanya beralaskan lantai saja. Bahkan lampu pun mereka tidak ada. Tidak ada listrik di kampung ini.

Orang disini hidup dengan alam, mereka tidak memiliki televisi, radio, kompor, kasur ataupun kursi sekaligus. Kebudayaan disini memang masih sangat kental dan mereka sangat mematuhi peraturan budaya mereka yang ada.

Benar-benar suasana yang sangat jarang didapatkan jika sudah berada di Jakarta. Jangan harap saya dapat melihat pepohonan banyak yang memadati pekarangan, suara jangkrik yang melengking indah, menghirup udara sejuk, orang yang ramah dengan nada bicara yang lembut. Seakan tak ingin pulang rasanya.

Disini kami hanya semalam menginap, dan tinggal nya pun di rumah warga. Jadi saya turut merasakan tinggal langsung di kampung ini, melihat keseharian mereka. Berbanding terbalik dengan keseharian yang saya kerjakan sehari-hari.

Malam hari nya, kampung ini seperti mati. Tidak ada penerangan satu pun, di dalam rumah hanya memakai petromaks. Dan jika ingin ke kamar mandi, harus keluar dan memakai senter sebagai alat penerang.

Untuk mandi saja kami harus menaiki kurang lebih 400 anak tangga. Demi mendapatkan kamar mandi yang layak dan bersih.

Kampung Naga memang berada di bawah tebing, maka dari itu disebut dengan “Naga”. Harus melewati 400 anak tangga terlebih dahulu untuk menuju kampung itu. Dan untuk keluar kampung juga sama harus melewati tangga tersebut, ya mau tidak mau.

Matahari yang yang sudah terbit kembali menandakan hari sudah pagi, dan kami bersip-siap untuk bangun. Melihat kegiatan mereka di kampung ini.

Siang hari nya, saya dan rombongan kembali ke rumah dan bersiap untuk pulang. Saya harus meninggalkan kampung ini dan kembali ke tempat tinggal saya. Sungguh berat rasanya kembali bertemu dengan polusi udara yang ada di Jakarta.

Perjalanan pun kami lanjutkan, kali ini saya dan rombongan akan pulang ke temapt tinggal asal kami, Tangerang.

Pengalaman yang tidak terlupakan. Bisa ikut merasakan menjadi warga Kampung Naga, merasakan tinggal di rumah asli sana, tanpa lampu. Dan yang tak akan pernah dilupakan, harus melewati 400 lebih anak tangga.

Jumat, 03 Mei 2013

Usia Tak Menjadi Halangan


Oleh Niza Sari Pratiwi






WANITA yang mengenakan topi bundar terbuat dari bambu itu menggerakan sapu nya ke depan dan belakang. Dia hanya mengenakan kaos seadanya yang sudah melar dan besar di badan nya yang ringkih. Sesekali ia mengelap keringat yang keluar dari wajah nya yang sudah tidak muda lagi.

Jalanan saat itu memang dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang melewati wanita tersebut. Dedaunan yang sudah mengering berjatuhan dan mengarah kepada nya. Debu yang mengotori wajah nya seakan sudah tidak ia hiraukan lagi.

Siang itu saya melihat wanita tersebut sendiran membersihkan jalan yang berada di kota Tangerang Selatan, BSD. Melihat badan nya yang sudah tidak muda lagi saya tidak menyangka kalau ia adalah seorang pembersih jalanan.

Wanita tadi tak lain Siti Munaroh. Sudah lebih dari 10 tahun ia memilih bekerja sebagai Penyapu Jalanan yang berada di daerah BSD. Umur nya yang sudah mencapai 68 tahun membuat saya takjub dengan profesi yang ia geluti sekarang.

Awalnya saya sedang mengambil gambar untuk tugas, namun saya melihat wanita yang bernama Siti menyapu jalanan yang tidak kecil, di tengah terik panas nya matahari saat itu.

“Lihat jalanan kotor seperti ini ya saya harus segera membersihkan nya”, ujar wanita itu kepada saya.

Mak Siti memang bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Pendidikan nya berakhir di Sekolah Menengah Pertama. Ia tinggal dengan ke lima cucu nya dan satu orang anak nya yang sudah memiliki keluarga.

“Mau bagaimana lagi neng, untuk mencukupi kebutuhan ke lima cucu saya dan anak saya, pekerjaan ini lah yang hanya bisa saya kerjakan”. Tutur beliau sambil membenarkan topi bambu nya.

Wanita itu awalnya menggeluti pekerjaan sebagai pencuci pakaian keliling. Sampai berumur 50 ia memilih berhenti dari pekerjaan nya.

Risma adalah anak satu-satu nya yang masih tinggal bersama Siti di rumah yang sangat sederhana yang berada di Rawa Buntu, Tangerang Selatan. Risma lah yang meneruskan jejak Ibu nya sebagai pencuci pakaian keliling di kampung nya.

Sekitar tahun 2000, Siti mulai mencari pekerjaan lain, dan pada akhirnya ia memilih menjadi penyapu jalanan. Gaji nya yang tidak seberapa dan sangat minim tidak membuat wanita ringkih itu menyerah untuk menyapu jalan raya yang ada di daerah BSD.

“Kalau capek, saya selalu istirahat di bawah pohon. Biasa.... beli minuman dingin atau membeli nasi bungkus disana”, ujar Siti sambil menunjuk ke bangunan kecil dan kotak itu.

“Saya mah asli tangerang, Ibu dan Bapak saya orang Sukabumi, dari kecil saya disini, jadi udah apal banget dah daerah sini mah”, kata wanita itu sambil tertawa, seolah-olah menunjukan gigi nya yang sudah jarang terlihat.

Wanita ini mulai menyapu jalan pukul lima pagi dini hari hingga pukul empat sore dan mengaku memiliki pengalaman selama bekerja sebagai penyapu jalan raya.

Dedaunan, ranting, dan sampah yang bertebaran di jalanan sekejap hilang. Namun, benda itu terkadang muncul kembali di hadapannya.

Tak kenal kata lelah, wanita yang lahir di Sukabumi, mengaku sudah lupa tanggal berapa ia lahir. Namun unik nya, ia mengetahui umur nya. Ya, 68 tahun.

“Aduh saya lupa, saya itu lahir tanggal berapa dan bulan apa, maklum faktor umur. Yang saya ingat ya saya sekarang berumur 68 tahun”, ujar beliau sambil menganggukan kepala nya.

Sesekali ada yang memberi nya makanan dan minuman, pada saat ia sedang membersihkan jalan raya itu. Tak hanya itu, ia juga mengaku pernah di beri uang saku kepada orang-orang yang melewati jalan raya itu.

“Rejeki emang nggak kemana neng, saya pernah di belikan makanan dan minuman, bahkan di beri uang saku. Ya alhamdulillah saja buat nambahin pemasukan”, kata Siti dengan nada bicara pelan layaknya wanita yang sudah memiliki umur yang tidak muda lagi.

Selain di tempat biasa ia membersihkan jalanan, depan sekolah Cikal Harapan. Ia juga sering menyapu jalan raya di depan tempat olah raga, Taman Kota.

Siti, atau yang bisa disebut Mak Siti mengaku kesulitan menyapu jalanan di depan Taman Kota, sampah yang berada di jalan itu lebih banyak ketimbang di depan sekolah Cikal.

Mengingat umur nya yang sudah rentan dan tidak muda lagi, itu lah yang menjadi tantangan dalam pekerjaan nya sekarang. Karena memang sudah tugas nya menyapu jalan raya yang membutuhkan waktu lama.

“Capek sih iya neng pasti, tapi kan ini sudah menjadi kewajiban saya membersihkan nya”, kata mak Siti sambil menyapu sampah yang ada.

Didi, Ali, Ina, Uti dan Adi adalah cucu mak Siti yang tinggal bersama nya. Bagi nya, pekerjaan yang ia geluti saat ini memang memiliki gaji yang tidak seberapa. Demi memenuhi kebutuhan ke-lima cucu nya dan anak nya, ia sampai banting tulang, bersama anak perempuannya.

“Nggak peduli usia saya yang sudah tua ini, yang penting cucu dan anak saya bisa makan dan sekolah”.

Sapu yang ia pegang kembali digerakan oleh mak Siti. Kedepan, belakang, dan samping. Tak peduli panas nya terik matahari yang menusuk topi bundar bambu nya.