Oleh
Niza Sari Pratiwi
MOBIL
hitam yang berdebu dan kotor namun dilengkapi dengan radio, melintasi jalanan yang
berlubang dan rusak. Alat pendingin atau AC di kendaraan ini terkadang tidak
ada rasanya. Terdengar bait lagu barat yang sudah tidak asing lagi, bersamaan
dengan suara “Dum.. dum.. dum..” dari lagu itu, kaca spion mobil pun lepas.
Perjalanan menuju
Kampung Naga memang sangat berliku dan tidak mulus. Kendaraan yang berukuran
besar pun sering melintas dan mengakibatkan jalanan menjadi banyak yang berlubang.
“Aduh, kaca spion kiri nya
lepas pasti gara-gara jalanan lubang tadi. Gimana dong??,” kata teman saya
dengan nada suara panik.
Mobil kami mencoba
untuk ke pinggir jalan, untuk melihat keadaan spion yang lepas. Dan menambal
nya dengan lakban yang sudah tersedia di dalam kendaraan.
“Bener-bener mobil yang
sudah tidak terawat”, celetuk teman saya sambil memasang spion dengan lakban
untuk memperbaiki nya kembali.
Dengan kondisi jalanan
yang masih gelap, saya sudah berada di mobil. Saya dan teman-teman mencoba
berangkat dari Tangerang jam empat pagi, karena lokasi yang dituju, Kampung
Naga, sangat jauh dari tempat tinggal kami.
Saya memang menyewa
kendaraan untuk menuju ke Kampung Naga,Tasikmalaya, Jawa Barat. Melihat tempat
itu sangat jauh maka kami sepakat untuk menyewa mobil di dekat rumah salah satu
teman saya.
Tiga jam berlalu.
Perjalanan saya hentikan sementara, dan berhenti di tempat peristirahatan. Pom Bensin merupakan tempat
peristirahatan yang kesekian kali nya kami berhenti.
Sekilas pom bensin ini
tampak depan seperti biasa. Namun saat mobil kami parkir, saya melihat
pemandangan yang tidak biasa. Seperti berada di New Zealand, saya tidak
membuang waktu, langsung saja saya mengambil gambar di tempat ini.
Siapa bilang Jawa Barat
tidak memiliki pemandangan yang indah? Bukti nya saja, di pom bensin ini
terdapat udara dan pemandangan seperti nampak di luar negeri.
Asik mengambil gambar.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB siang, dan perjalanan pun
dilanjutkan kembali. Kali ini teman saya yang bernama Ronny yang gantian untuk
menyetir.
Perjalanan dilanjutkan
kembali, kalau bisa sore sudah berada di Kampung Naga. Agar bisa melihat
kegiatan warga sana. Karena tujuan utama kami mengamati kebudayaan di kampung
itu.
“Ada yang lapar dan
belum sarapan? Gimana kalau kita cari makan, sekalian makan siang”, ujar salah
satu teman saya.
Setengah jam
berlangsung, dan waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Memang waktu nya untuk
makan siang. Kendaraan pun dihentikan kembali. Kali ini ke salah satu rumah
makan yang berada tidak jauh dari tempat terakhir kami berhenti.
Saya dan rombongan
memang sudah berada di Garut, dan menuju Tasikmalaya sudah tidak jauh lagi.
Makanya kami menyempatkan makan siang terlebih dahulu.
Saya mencoba salah satu
makanan khas Garut, yaitu bubur ayam. Rasa bubur asli Garut dengan yang
terdapat di dekat rumah saya memang berbeda. Bubur disini lengkap, ada telur,
ati ayam dan dipenuhi dengan kecap manis. Ya, memang asli sana. Setelah mengisi
perut, kami pun melanjutkan perjalanan kami.
Kira-kira 10 jam kami
menempuh perjalanan menuju Tasikmalaya. Sangat lama, mungkin karena kebanyakan
berhenti dan istirahat. Pukul tiga sore kami sampai di tempat tujuan, Kampung
Naga.
Disana saya dan
rombongan disambut oleh tour guide yang
bernama mang Nok. Suasana yang benar-benar jarang saya dapatkan di Jakarta.
Akhirnya saya rasakan di tempat ini.
Kampung Naga berada di
Tasikmalaya, Jawa Barat. Warga disini masih sangat memegang teguh kebudayaan
mereka dan sangat kental dengan ajaran adat yang diterapkan. Pepohonan, udara
sejuk, rumah terbuat dari bambu dan atap dari ijuk memadati kampung ini.
“Silahkan neng, dimakan
dulu atuh makanan nya”, ujar mak Asih, salah satu pemilik rumah yang akan saya
tempati untuk menginap semalam.
Ayam goreng, sayur
lodeh, tahu, tempe dan tak lupa dengan kerupuk khas Kampung Naga memenuhi
tempat makan yang sudah disediakan. Rumah disini memang tidak memakai kursi,
meja ataupun tempat tidur. Hanya beralaskan lantai saja. Bahkan lampu pun
mereka tidak ada. Tidak ada listrik di kampung ini.
Orang disini hidup
dengan alam, mereka tidak memiliki televisi, radio, kompor, kasur ataupun kursi
sekaligus. Kebudayaan disini memang masih sangat kental dan mereka sangat
mematuhi peraturan budaya mereka yang ada.
Benar-benar suasana
yang sangat jarang didapatkan jika sudah berada di Jakarta. Jangan harap saya
dapat melihat pepohonan banyak yang memadati pekarangan, suara jangkrik yang
melengking indah, menghirup udara sejuk, orang yang ramah dengan nada bicara
yang lembut. Seakan tak ingin pulang rasanya.
Disini kami hanya
semalam menginap, dan tinggal nya pun di rumah warga. Jadi saya turut merasakan
tinggal langsung di kampung ini, melihat keseharian mereka. Berbanding terbalik
dengan keseharian yang saya kerjakan sehari-hari.
Malam hari nya, kampung
ini seperti mati. Tidak ada penerangan satu pun, di dalam rumah hanya memakai
petromaks. Dan jika ingin ke kamar mandi, harus keluar dan memakai senter
sebagai alat penerang.
Untuk mandi saja kami
harus menaiki kurang lebih 400 anak tangga. Demi mendapatkan kamar mandi yang
layak dan bersih.
Kampung Naga memang
berada di bawah tebing, maka dari itu disebut dengan “Naga”. Harus melewati 400
anak tangga terlebih dahulu untuk menuju kampung itu. Dan untuk keluar kampung
juga sama harus melewati tangga tersebut, ya mau tidak mau.
Matahari yang yang
sudah terbit kembali menandakan hari sudah pagi, dan kami bersip-siap untuk
bangun. Melihat kegiatan mereka di kampung ini.
Siang hari nya, saya
dan rombongan kembali ke rumah dan bersiap untuk pulang. Saya harus
meninggalkan kampung ini dan kembali ke tempat tinggal saya. Sungguh berat
rasanya kembali bertemu dengan polusi udara yang ada di Jakarta.
Perjalanan pun kami
lanjutkan, kali ini saya dan rombongan akan pulang ke temapt tinggal asal kami,
Tangerang.
Pengalaman yang tidak
terlupakan. Bisa ikut merasakan menjadi warga Kampung Naga, merasakan tinggal
di rumah asli sana, tanpa lampu. Dan yang tak akan pernah dilupakan, harus
melewati 400 lebih anak tangga.