Senin, 27 Mei 2013

Selamat datang, 20 tahun!

Haaaaa alhamdulillah gue masih diberikan umur panjang sama Allah SWT karena tanggal 25 Mei 2013 kemaren gue baru aja bertambah umur dan ulang tahun yang ke 20. YEY YEY YEEEY! Dulu, waktu gue masih SD, SMP atau SMA ngedenger orang yang udah umur 20 tahun kayanya tuh tuaaa banget gitu kaya udah siap kerja, udah punya penghasilan sendiri dan udah siap ngurus anak -_-. Nah sekarang gue yang umur 20 tahun tapi gue masih kaya gini, masih yang males mikirin yang aneh dan ribet, maksut nya masa depan hahahaha! Ga deng, eh apasih.

Waktu hari sabtu tanggal 25 Mei kemaren ceritanya temen-temen SMA gue, sahabat gue dari SMP dan SMA sampe sekarang, dateng gitu deh ke rumah gue :D. Seneng banget akhirnya bisa ketemu mereka lagi (kecuali Rana dan Hesi) mereka mah udah bosen, soalnya gue sama Rana dan Hesi satu kampus zzz! Oke lanjut, jadi ceritanya itu gue abis mandi tuh jam 11an gitu, lagi sibuk balesin bbm (cie bbm nya rame) ya ngebalesin ucapan dari yang lainnya. Bener-bener ga ada firasat sama sekali mereka bakalan dateng ngasih surprise hahahaha karena gue mikirnya mereka pasti lagi pada sibuk tugas lah, kuliah lah apa lah, orang kalo diajak ketemu aja pada gabisa huhuhuhu! Eh tau nyaaaa mereka menyempatkan waktu untuk kasih gue kue dan kado di ulangtahun yang ke 20 ini! Asiiiik! Seneng sih ya pasti lah ya, siapa sih yang ga seneng kalo dikasih surprise? Apalagi sama sahabat lo yang udah lama ga ketemu.

Jadi itu yang pada dateng kerumah ada enam anak! ada Uta, Oby, Tari, Rana, Hesi, dan Fila :) iiih ga nyangka sih abis ga ada feeling sama sekali mereka bakalan dateng. Seperti biasa mereka membawakan kue ulang tahun dan beberapa kado yeeeey. Oh iya ini foto nya :


Ini mereka! tanpa Fila :( karena dia udah pulang duluan, ada urusan katanya! hufff. 

Nah itu foto nya, itu dikamar gue (ga nanya) itu tanpa Fila abis dia sibuk sih, dia udah balik duluan. Sebenernya yang ada dia nya ada sih, tapi gue nya ga megang kue hahahaha dan itu ada di hp gue ga sempet gue pindahin. Maaf ya Fila :(. Nanti kalo sempet gue pindahin ke sini deh hihi. 

Oiyaaaa yang gue seneng nya lagi, mereka ngasih gue kado yang berbau London. Yeyyyy gue seneng banget! nih kado dari mereka (Uta, Tari, Oby, Fila, Rana dan Hesi) :D 


Ini kado nya dari mereka yey!

Itu dia deh foto foto gue pas sabtu kemaren, abis itu kebetulan banget nyokap dan embak gue lagi bikin nasi kuning. Yaudah mereka gue traktir itu aja, dirumah. Hahahahaha mereka pada makan nasi kuning dan lauk  pendamping nya buatan embak gue! Jangan salah, itu enak banget. Ga boong gue. Ga percaya? Yaudah.. 

Yaaa harapan nya di umur 20 tahun ini, gue bisa sukses kedepannya, sukses kuliah nya, dan di sehat kan, dipanjangkan umur nya karena harus ngebanggain orang tua dulu dan semoga lancar di segala hal. Aamiin Ya robbal alamin deh.

Yaudah segitu dulu deh gue cerita nya. Thankyou Fila, Uta, Rana, Hesi, Oby dan Tari yang udah ngasih kue dan kado. I love you guys so much! Xoxo. Bye :D


@Nizasp


Selasa, 14 Mei 2013

Teriakan Aktivis di Sabtu Siang

oleh Niza Sari Pratiwi


“Laki-laki pembeli seks biang kerok epidemi HIV”. Seluruh aktivis memegangi tulisan bertinta hitam itu yang terpajang jelas di sebuah papan berwarna kuning terang menyolok di depan patung yang  menandakan selamat datang (bundaran HI) untuk merayakan hari AIDS sedunia.



Siang itu, Sabtu 1 Desember 2012 ditengah panas nya matahari yang menusuk kepala saya terlihat ribuan massa aktivis sosial dari Jaringan Aksi Perubahan Indonesia memadati bundaran Hotel Indonesia, (HI), Jakarta.

Suara teriakan dan nyanyian “WTO... WTO... WTO” sudah menggelegarkan telinga saya, pakaian nya pun seragam. Semua berwarna putih.

Pita merah yang menandakan bentuk kepedulian kita terhadap HIV AIDS menempel di baju para aktivis yang datang. Ya, semua memakai baju itu.

Setelah menunggu kerumunan aktivis kurang lebih setengah jam, akhirnya saya dan ke tiga teman lainnya ikut meramaikan orasi untuk memperingati hari AIDS sedunia ini dengan bermodalkan kamera dan saya pun mengambil gambar.

Pukul 2 siang, awal aksi tersebut telah terlihat dari arah Dukuh Atas. Massa perlahan-lahan memutari bundaran HI, selanjutnya melakukan kampanye dan aksi orasi tentag bahaya penyebaran virus epidemi AIDS yang menyebar dan mengecam anak bangsa.

Massa yang turun melakukan orasi pun membawa replika boneka bayi, kereta sorong bayi, dan ada pula yang membawa keranda mayat yang bertuliskan HIV AIDS.

Laki-laki berbaju hitam putih bergaris yang di bredel dan masuk ke sebuah replika penjara menandakan pembeli seks harus di berikan sanksi yang kuat. Tema orasi kali ini ialah Selamatkan Perempuan dan Anak dari HIV AIDS.

“Saya memperingati hari HIV, ya ingin turut serta aja dalam meramaikan kepedulian pada aksi hari ini”, kata Jony Cory salah seorang peserta aksi hari AIDS saat itu.

Saat itu matahari disana sangat menyengat kepala saya, keringat bermunculan dari wajah. Rasa haus tak lupa terasa dari mulut saya.

Monumen yang bergambarkan patung selamat datang, siang itu penuh dengan lautan manusia dan menghambat jalanan saat itu.

Walaupun kampanye orasi ini bersifat damai dan tidak ada nya kekerasan. Puluhan polisi pun ikut mengantisipasi jika terjadi nya hal yang tidak diinginkan nanti nya.

Saya ikut mengitari Bundaran HI, dan turut serta meneriakan “selamatkan perempuan dan anak dari HIV AIDS, yeaaah!” sambil mengelap keringat dan mengambil gambar.

Sekitar 11 perwakilan aktivis penggiat sosial provinsi dari Indonesia, bergabung dalam aksi hari itu. Para orator menyampaikan korban paling banyak dari perempuan dan anak-anak yang ditularkan langsung dari laki-laki pembeli seks.

Asal mula HIV AIDS
HIV merupakan kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini biasanya menular jika sering berganti pasangan dan melakukan hubungan intim. Sedangkan AIDS ialah Acquaired Immune Deficiency Syndrome. Dan WTO ialah World Trade Organization.

Hari AIDS sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss.

Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Program AIDS Global. Lalu ia menyukai konsep itu dan menyetujui dan sepakat kalau Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 desember 1988.

Akhirnya Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakini nya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS sedunia.

Sejak saat itulah masyarakat melakukan peringatan hari AIDS dan mereka sadar akan serius nya penyakit itu yang berasal dari virus dan penyembuhannya pun memakan waktu yang sangat lama. Bahkan di Indonesia saja belum ada obat nya.

****

 “Masih banyak-santi santi lain yang menjadi korban, saya positif dan menjadi korban virus HIV dari laki-laki pembeli sex dan menularkannya kepada saya!,”

Suara wanita yang bernama Santi, salah satu seorang peserta demo dari rombongan ODHA (Orang dengan HIV AIDS) terdengar di gemuruh nya manusia yang berada di bundaran HI siang itu.

Salah seorang orator memanggil wanita yang bernama Indah Wulan. Orasi itu juga mendatangkan kementerian pemberdayaan perempuan deputi PUG bidang Politik Sosial dan Hukum.

Wanita itu mengatakan dengan suara yang lantang, kalau kampanye ini harus terus dilaksanakan agar ada upaya penyadaran dan pencegahan serta penyebaran virus HIV AIDS.

Diperkirakan jumlah korban semakin meningkat, saat ini saja terdapat enam sampai 10 juta orang terinveksi HIV di dunia.

Suasana kembali memanas saat terdapat salah seorang wanita peserta aksi yang bernama Novi dari ODHA Terlihat jatuh pingsan dan tak sadakan diri.

Wanita itu menggunakan buntalan diperutnya, seolah seorang ibu yang menjadi korban HIV AIDS dan akan menularkan ke anak nya nanti.

Begitu banyak papan yang bertuliskan mengenai HIV AIDS siang itu di Bundaran HI. Bendera dari sebuah organisasi pun ikut dikibarkan di tengah-tengah lahan patung selamat datang itu.

Teriakan dari para aktivis menarik perhatian masyarakat yang melewati jalanan depan Hotel Indonesia.
Tak mengenal kata lelah, keringat yang mengucur, matahari yang menusuk tubuh. Kampanye sekaligus orasi dari para aktivis menyadarkan saya akan bahaya nya virus ini.



Pencegahan memang harus terus dilakukan, agar tidak banyak yang terjerat virus HIV AIDS ini. Virus yang dapat mematikan impian manusia kedepan nya.



@Nizasp

Rabu, 08 Mei 2013

Dari Tangerang ke Tasikmalaya.


Oleh Niza Sari Pratiwi

MOBIL hitam yang berdebu dan kotor namun dilengkapi dengan radio, melintasi jalanan yang berlubang dan rusak. Alat pendingin atau AC di kendaraan ini terkadang tidak ada rasanya. Terdengar bait lagu barat yang sudah tidak asing lagi, bersamaan dengan suara “Dum.. dum.. dum..” dari lagu itu, kaca spion mobil pun lepas.

Perjalanan menuju Kampung Naga memang sangat berliku dan tidak mulus. Kendaraan yang berukuran besar pun sering melintas dan mengakibatkan jalanan menjadi banyak yang berlubang.

“Aduh, kaca spion kiri nya lepas pasti gara-gara jalanan lubang tadi. Gimana dong??,” kata teman saya dengan nada suara panik.

Mobil kami mencoba untuk ke pinggir jalan, untuk melihat keadaan spion yang lepas. Dan menambal nya dengan lakban yang sudah tersedia di dalam kendaraan.

“Bener-bener mobil yang sudah tidak terawat”, celetuk teman saya sambil memasang spion dengan lakban untuk memperbaiki nya kembali.

Dengan kondisi jalanan yang masih gelap, saya sudah berada di mobil. Saya dan teman-teman mencoba berangkat dari Tangerang jam empat pagi, karena lokasi yang dituju, Kampung Naga, sangat jauh dari tempat tinggal kami.

Saya memang menyewa kendaraan untuk menuju ke Kampung Naga,Tasikmalaya, Jawa Barat. Melihat tempat itu sangat jauh maka kami sepakat untuk menyewa mobil di dekat rumah salah satu teman saya.

Tiga jam berlalu. Perjalanan saya hentikan sementara, dan berhenti di tempat  peristirahatan. Pom Bensin merupakan tempat peristirahatan yang kesekian kali nya kami berhenti.

Sekilas pom bensin ini tampak depan seperti biasa. Namun saat mobil kami parkir, saya melihat pemandangan yang tidak biasa. Seperti berada di New Zealand, saya tidak membuang waktu, langsung saja saya mengambil gambar di tempat ini.

Siapa bilang Jawa Barat tidak memiliki pemandangan yang indah? Bukti nya saja, di pom bensin ini terdapat udara dan pemandangan seperti nampak di luar negeri.

Asik mengambil gambar. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB siang, dan perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kali ini teman saya yang bernama Ronny yang gantian untuk menyetir.

Perjalanan dilanjutkan kembali, kalau bisa sore sudah berada di Kampung Naga. Agar bisa melihat kegiatan warga sana. Karena tujuan utama kami mengamati kebudayaan di kampung itu.

“Ada yang lapar dan belum sarapan? Gimana kalau kita cari makan, sekalian makan siang”, ujar salah satu teman saya.

Setengah jam berlangsung, dan waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Memang waktu nya untuk makan siang. Kendaraan pun dihentikan kembali. Kali ini ke salah satu rumah makan yang berada tidak jauh dari tempat terakhir kami berhenti.

Saya dan rombongan memang sudah berada di Garut, dan menuju Tasikmalaya sudah tidak jauh lagi. Makanya kami menyempatkan makan siang terlebih dahulu.

Saya mencoba salah satu makanan khas Garut, yaitu bubur ayam. Rasa bubur asli Garut dengan yang terdapat di dekat rumah saya memang berbeda. Bubur disini lengkap, ada telur, ati ayam dan dipenuhi dengan kecap manis. Ya, memang asli sana. Setelah mengisi perut, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Kira-kira 10 jam kami menempuh perjalanan menuju Tasikmalaya. Sangat lama, mungkin karena kebanyakan berhenti dan istirahat. Pukul tiga sore kami sampai di tempat tujuan, Kampung Naga.

Disana saya dan rombongan disambut oleh tour guide yang bernama mang Nok. Suasana yang benar-benar jarang saya dapatkan di Jakarta. Akhirnya saya rasakan di tempat ini.

Kampung Naga berada di Tasikmalaya, Jawa Barat. Warga disini masih sangat memegang teguh kebudayaan mereka dan sangat kental dengan ajaran adat yang diterapkan. Pepohonan, udara sejuk, rumah terbuat dari bambu dan atap dari ijuk memadati kampung ini.



“Silahkan neng, dimakan dulu atuh makanan nya”, ujar mak Asih, salah satu pemilik rumah yang akan saya tempati untuk menginap semalam.

Ayam goreng, sayur lodeh, tahu, tempe dan tak lupa dengan kerupuk khas Kampung Naga memenuhi tempat makan yang sudah disediakan. Rumah disini memang tidak memakai kursi, meja ataupun tempat tidur. Hanya beralaskan lantai saja. Bahkan lampu pun mereka tidak ada. Tidak ada listrik di kampung ini.

Orang disini hidup dengan alam, mereka tidak memiliki televisi, radio, kompor, kasur ataupun kursi sekaligus. Kebudayaan disini memang masih sangat kental dan mereka sangat mematuhi peraturan budaya mereka yang ada.

Benar-benar suasana yang sangat jarang didapatkan jika sudah berada di Jakarta. Jangan harap saya dapat melihat pepohonan banyak yang memadati pekarangan, suara jangkrik yang melengking indah, menghirup udara sejuk, orang yang ramah dengan nada bicara yang lembut. Seakan tak ingin pulang rasanya.

Disini kami hanya semalam menginap, dan tinggal nya pun di rumah warga. Jadi saya turut merasakan tinggal langsung di kampung ini, melihat keseharian mereka. Berbanding terbalik dengan keseharian yang saya kerjakan sehari-hari.

Malam hari nya, kampung ini seperti mati. Tidak ada penerangan satu pun, di dalam rumah hanya memakai petromaks. Dan jika ingin ke kamar mandi, harus keluar dan memakai senter sebagai alat penerang.

Untuk mandi saja kami harus menaiki kurang lebih 400 anak tangga. Demi mendapatkan kamar mandi yang layak dan bersih.

Kampung Naga memang berada di bawah tebing, maka dari itu disebut dengan “Naga”. Harus melewati 400 anak tangga terlebih dahulu untuk menuju kampung itu. Dan untuk keluar kampung juga sama harus melewati tangga tersebut, ya mau tidak mau.

Matahari yang yang sudah terbit kembali menandakan hari sudah pagi, dan kami bersip-siap untuk bangun. Melihat kegiatan mereka di kampung ini.

Siang hari nya, saya dan rombongan kembali ke rumah dan bersiap untuk pulang. Saya harus meninggalkan kampung ini dan kembali ke tempat tinggal saya. Sungguh berat rasanya kembali bertemu dengan polusi udara yang ada di Jakarta.

Perjalanan pun kami lanjutkan, kali ini saya dan rombongan akan pulang ke temapt tinggal asal kami, Tangerang.

Pengalaman yang tidak terlupakan. Bisa ikut merasakan menjadi warga Kampung Naga, merasakan tinggal di rumah asli sana, tanpa lampu. Dan yang tak akan pernah dilupakan, harus melewati 400 lebih anak tangga.

Jumat, 03 Mei 2013

Usia Tak Menjadi Halangan


Oleh Niza Sari Pratiwi






WANITA yang mengenakan topi bundar terbuat dari bambu itu menggerakan sapu nya ke depan dan belakang. Dia hanya mengenakan kaos seadanya yang sudah melar dan besar di badan nya yang ringkih. Sesekali ia mengelap keringat yang keluar dari wajah nya yang sudah tidak muda lagi.

Jalanan saat itu memang dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang melewati wanita tersebut. Dedaunan yang sudah mengering berjatuhan dan mengarah kepada nya. Debu yang mengotori wajah nya seakan sudah tidak ia hiraukan lagi.

Siang itu saya melihat wanita tersebut sendiran membersihkan jalan yang berada di kota Tangerang Selatan, BSD. Melihat badan nya yang sudah tidak muda lagi saya tidak menyangka kalau ia adalah seorang pembersih jalanan.

Wanita tadi tak lain Siti Munaroh. Sudah lebih dari 10 tahun ia memilih bekerja sebagai Penyapu Jalanan yang berada di daerah BSD. Umur nya yang sudah mencapai 68 tahun membuat saya takjub dengan profesi yang ia geluti sekarang.

Awalnya saya sedang mengambil gambar untuk tugas, namun saya melihat wanita yang bernama Siti menyapu jalanan yang tidak kecil, di tengah terik panas nya matahari saat itu.

“Lihat jalanan kotor seperti ini ya saya harus segera membersihkan nya”, ujar wanita itu kepada saya.

Mak Siti memang bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Pendidikan nya berakhir di Sekolah Menengah Pertama. Ia tinggal dengan ke lima cucu nya dan satu orang anak nya yang sudah memiliki keluarga.

“Mau bagaimana lagi neng, untuk mencukupi kebutuhan ke lima cucu saya dan anak saya, pekerjaan ini lah yang hanya bisa saya kerjakan”. Tutur beliau sambil membenarkan topi bambu nya.

Wanita itu awalnya menggeluti pekerjaan sebagai pencuci pakaian keliling. Sampai berumur 50 ia memilih berhenti dari pekerjaan nya.

Risma adalah anak satu-satu nya yang masih tinggal bersama Siti di rumah yang sangat sederhana yang berada di Rawa Buntu, Tangerang Selatan. Risma lah yang meneruskan jejak Ibu nya sebagai pencuci pakaian keliling di kampung nya.

Sekitar tahun 2000, Siti mulai mencari pekerjaan lain, dan pada akhirnya ia memilih menjadi penyapu jalanan. Gaji nya yang tidak seberapa dan sangat minim tidak membuat wanita ringkih itu menyerah untuk menyapu jalan raya yang ada di daerah BSD.

“Kalau capek, saya selalu istirahat di bawah pohon. Biasa.... beli minuman dingin atau membeli nasi bungkus disana”, ujar Siti sambil menunjuk ke bangunan kecil dan kotak itu.

“Saya mah asli tangerang, Ibu dan Bapak saya orang Sukabumi, dari kecil saya disini, jadi udah apal banget dah daerah sini mah”, kata wanita itu sambil tertawa, seolah-olah menunjukan gigi nya yang sudah jarang terlihat.

Wanita ini mulai menyapu jalan pukul lima pagi dini hari hingga pukul empat sore dan mengaku memiliki pengalaman selama bekerja sebagai penyapu jalan raya.

Dedaunan, ranting, dan sampah yang bertebaran di jalanan sekejap hilang. Namun, benda itu terkadang muncul kembali di hadapannya.

Tak kenal kata lelah, wanita yang lahir di Sukabumi, mengaku sudah lupa tanggal berapa ia lahir. Namun unik nya, ia mengetahui umur nya. Ya, 68 tahun.

“Aduh saya lupa, saya itu lahir tanggal berapa dan bulan apa, maklum faktor umur. Yang saya ingat ya saya sekarang berumur 68 tahun”, ujar beliau sambil menganggukan kepala nya.

Sesekali ada yang memberi nya makanan dan minuman, pada saat ia sedang membersihkan jalan raya itu. Tak hanya itu, ia juga mengaku pernah di beri uang saku kepada orang-orang yang melewati jalan raya itu.

“Rejeki emang nggak kemana neng, saya pernah di belikan makanan dan minuman, bahkan di beri uang saku. Ya alhamdulillah saja buat nambahin pemasukan”, kata Siti dengan nada bicara pelan layaknya wanita yang sudah memiliki umur yang tidak muda lagi.

Selain di tempat biasa ia membersihkan jalanan, depan sekolah Cikal Harapan. Ia juga sering menyapu jalan raya di depan tempat olah raga, Taman Kota.

Siti, atau yang bisa disebut Mak Siti mengaku kesulitan menyapu jalanan di depan Taman Kota, sampah yang berada di jalan itu lebih banyak ketimbang di depan sekolah Cikal.

Mengingat umur nya yang sudah rentan dan tidak muda lagi, itu lah yang menjadi tantangan dalam pekerjaan nya sekarang. Karena memang sudah tugas nya menyapu jalan raya yang membutuhkan waktu lama.

“Capek sih iya neng pasti, tapi kan ini sudah menjadi kewajiban saya membersihkan nya”, kata mak Siti sambil menyapu sampah yang ada.

Didi, Ali, Ina, Uti dan Adi adalah cucu mak Siti yang tinggal bersama nya. Bagi nya, pekerjaan yang ia geluti saat ini memang memiliki gaji yang tidak seberapa. Demi memenuhi kebutuhan ke-lima cucu nya dan anak nya, ia sampai banting tulang, bersama anak perempuannya.

“Nggak peduli usia saya yang sudah tua ini, yang penting cucu dan anak saya bisa makan dan sekolah”.

Sapu yang ia pegang kembali digerakan oleh mak Siti. Kedepan, belakang, dan samping. Tak peduli panas nya terik matahari yang menusuk topi bundar bambu nya. 

Rabu, 27 Maret 2013

Waktu?

Saya memang salah satu manusia yang semakin menyadari kalau waktu itu tidak dapat dibeli. Mengapa? Entah ada angin seperti apa saya menulis tulisan seperti ini, tapi Ya, saya semakin menyadari kalau kini, waktu semakin berputar cepat.

25 Mei 1993, tepat nya di Banjarmasin saya dilahirkan. Memang saya tidak ingat bagaimana kehidupan setelah saya lahir di dunia ini. Bagaimana orang tua saya merawat saya hingga usia empat tahun. Saya seakan seperti manusia ajaib yang tiba-tiba lahir di usia lima tahun, kenyataan nya ya memang seperti itu. Saya tidak ingat ketika kehidupan saya saat bayi hingga umur empat tahun. 

Yang saya ingat, saya sekolah di TK Budisiwi, TK yang berada di daerah Jakarta, tepat nya di Pejaten, saya ingat masa-masa TK saya dulu. Berlanjut ke Sekolah Dasar, yang awalnya saya bersekolah di SDN 05 Pagi, Pejaten, hingga pada saat waktu kembali datang, saya harus pindah dari Jakarta, ya, saya pindah ke BSD dan bersekolah di SDN Karya Bakti, saya resmi menjadi siswa Karya Bakti saat saya naik ke kelas Dua SD. 

Waktu.... kembali berputar dan memperlihatkan kekuatan nya, saya pikir kekuatan pada waktu itu terdapat di tingkat ketidak-sadaran kita soal waktu. 

Sekolah Menengah Pertama, saya kembali ke jenjang berikut nya. Saya ditempatkan di SMP Islam Al-Azhar BSD. Tiga tahun saya harus bolak-balik  ke sekolah itu demi mendapatkan ilmu. Hingga akhirnya masa-masa yang dibilang orang pada masa-masa terindah dan tak terlupakan itu datang. Ya, saya melanjutkan pendidikan saya selanjutnya di SMA Islam Al-Azhar BSD. Nama yang tentu saya tidak asing lagi, bahkan bisa dibilang bosan! Harus ke sekolah ini lagi dan lagi selama tiga tahun...

Tapi memang benar, masa-masa SMA memang yang tidak pernah terlupakan. DI SMA saya mendapatkan banyak pelajaran, pengalaman dalam kepanitiaan,organisasi dan tentu saja TEMAN sekaligus SAHABAT yang saya dapatkan di sekolah ini. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang selalu mengisi hidup saya, waktu saya, ya itu yang disebut dengan SAHABAT. 

Agak random memang saya menulis soal kehidupan saya, tapi saya hanya ingin memberitahu pendidikan saya selama ini. 

YA lagi-lagi waktu pun tidak terasa, enam tahun sudah saya berada di sekolah itu. Hingga akhirnya saya sekarang berada di tahap terakhir dalam pendidikan. PERKULIAHAN. saya memang tidak berhasil masuk Universitas Negri yang saya inginkan, namun, bukan berarti cita-cita saya tidak dapat di kejar. Sebelum saya harus pergi jauh, saya harus membahagiakan orang yang sangat saya sayangi, siapa lagi kalau bukan orang tua saya. 

Butuh waktu dan proses untuk dapat sukses, dan waktu pun terus berputar, sekarang saja misalnya, saya sudah berada di semester 4. Universitas Multimedia Nusantara lah yang saya pilih sebagai tahap pendidikan terakhir saya, S1 (Aamiin).

Saya harus mengejar target saya, saya harus sukses, saya harus membahagiakan kedua orang tua saya, saya harus berbalas budi kepada mereka. Semoga saya terus diberi kelancaran selama masa perkuliahan saya ini. 

Waktu tidak memandang usia, waktu hanya bekerja sesuai dengan pekerjaan nya
Semakin kita merasakan waktu, semakin lama waktu itu berputar, 
Namun, semakin kita menunda waktu, semakin lama pula untuk mencapai kesuksesan,
Biarlah waktu berjalan sesuka dia,
Kita disini yang harus mengejar waktu.

.........Agar impian saya dapat terwujud. Aamiin Ya Robbal Alamin. :) 

Selasa, 19 Maret 2013

Celotehan Sang Penggemar


Celotehan Sang Penggemar
Oleh Niza Sari Pratiwi


Di ruangan berbentuk persegi panjang itu, ia merapihkan beberapa poster yang berserakan di lantai. Dinding nya yang bewarna kuning tua sudah ternodai oleh foto sekumpulan wanita remaja yang bernama JKT 48. JKT 48 merupakan kepanjangan dari Jakarta 48 yang berbentuk sister group bersama AKB 48 (Akihabara) yang sudah terkenal dari tahun 2005.

Pemilik kamar tersebut bernama Rofi, ia sudah memiliki 24 poster JKT 48. Usia remaja ini masih 17 tahun, badan nya yang besar, tinggi, memiliki kulit yang sedikit hitam seakan terlihat berumur 20 tahun. Ya, ia salah satu fans berat dari JKT 48.

“Saya sudah punya 24 poster, dan satu kartu member dari teater tapi nggak semua nya saya pajang, ya saya taruh saja di meja belajar”, kata Rofi, sambil asik membereskan poster-poster tersebut.

Kalau punya waktu jam kosong di sekolah, Rofi dan ke dua teman nya langsung menuju FX, teater show itu dimulai pukul 12 siang, dan kalau malam, jam 8.

Sebenarnya teater itu berisi penampilan lagu-lagu JKT 48 yang tidak di publish di luar. Mereka mengadakan acara itu seminggu empat kali, di salah satu mall yang ada di Jakarta, FX. Dan jika ia memilki waktu senggang di hari sekolah nya, ia bergegas untuk menonton teater itu.

Sepenggal lagu itu berkumandang di salah satu handphone fans JKT 48 yang lain. I want you... I need you... I love you...  lagu itulah yang membuat sister group ini terkenal dikalangan penggemar nya.

“Dia itu sister group loh,  jangan bilang dia girl band ya! Jangan salah pikir, ini jelas beda. Mereka yang meng-cover lagu AKB 48 dari bahasa Jepang, dan di translate ke Indonesia”, kata Alif yang juga mengaku suka dengan Nabila, salah satu personil JKT 48.

Ia memiliki alasan mengapa dirinya sudah mengoleksi tiga album lagu sister group ini di handphone nya, ya, semua album ia punya. “Ya suka aja, habis lagu nya enak, bikin semangat deh pokoknya, terus menurut saya juga nggak norak-norak banget,”  kata Alif sambil memegang benda kecil yang setiap hari dibawa nya kemana pun, apalagi kalau bukan handphone.

Rey, remaja yang  juga berumur 17 tahun pun mengaku kalau ia suka JKT 48 dengan sendiri nya. Semenjak acara yang diadakan oleh sekolah nya, ia mengaku langsung tertarik dan menyukai sister group ini. “Lagu nya enak, personil nya juga cantik-cantik dan enak dilihat, pokonya sesuatu  banget lah mereka”, kata Rey, remaja yang memiliki badan kurus dan kecil ini.

Ayana, Rena dan Nabilla merupakan nama personil dari JKT 48 yang disukai oleh mereka. Pengalaman yang tak terlupakan dan kejadian lucu pernah mereka alami pada saat menonton sister group ini manggung di teater.

Kejadian unik dan memalukan pun dialami mereka, Rey misalnya, yang mengaku pernah berteriak memanggil nama “Rena” dan melambaikan tangan ke cewek itu, namun sia-sia. Ia pun tak kunjung melihat ke arah Rey, alhasil, Rey pun di cuekin.

Hal itu yang  membuat cowok ini untuk mengoleksi barang dari teater, seperti lightstick, photopack, kaos, tiket bekas, ia simpan sebagai kenang-kenangan. Rey juga mengaku mempunyai CD dan DVD original JKT 48.


Salah satu koleksi Rey.


Berbeda dengan Rey, cowok yang tinggi dan besar bernama Rofi ini, memiliki hal yang tidak akan dilupakan oleh nya, Rofi pernah salaman serta tatapan langsung dengan Ayana, personil JKT 48 yang disukai nya.
Berbagai celaan keluar dari mulut para haters (sekumpulan orang yang tidak menyukai sister group) ini. Sebagai fans fanatik JKT 48, mereka tidak mendengarkan caci-an atau celaan.

“JKT 48 itu kompak, solid, tidak terpengaruh media, selera orang itu beda-beda, ya saya sih melihat kemampuan JKT 48, tujuan nya untuk menghibur dan mengharumkan nama Indonesia, karena mereka juga udah Go International ke Jepang”, kata Rofi.

Tiga cowok remaja yang sudah menganggap dirinya penggemar fanatik JKT 48 itu juga mengatakan kalau ada orang yang menganggap JKT 48 itu negatif, yang bisa dibilang dengan “aji mumpung” dan ada yang menganggap mereka itu positif, ya untuk menghibur masyarakat Indonesia, selain itu mereka juga menilai kalau fans di Indonesia dan Jepang lebih banyak dibandingkan haters nya.


Selasa, 26 Februari 2013

Kenya Rising


Kenya Rising
(Aksi Boniface Mwangi yang menginginkan Kenya kembali)

Boniface Mwangi, laki-laki asal Kenya yang berumur 29 tahun,  sebelum menjadi aktivis politik, dia bekerja sebagai wartawan foto jurnalis. Dia dan team nya ingin mengembalikan Kenya seperti dahulu, menjadi negara yang damai. Kenya hidup dibawah tingkat kemiskinan $1 per hari dan diperkirakan hingga $1BN hilang akibat korupsi antara 2002 dan 2005. Pukul 08:00 malam di salah satu gedung yang berada di Nairobi, dia dan rekan team nya mempersiapkan aksi pertama nya untuk konteks korupsi politik. “Kami berusaha untuk berimprovisasi, ini adalah graffiti pertama kami dan kami sangat tidak terorganisir, ini merupakan sebuah tantangan bagi kami karena ini hal yang ilegal,” kata Boniface.  Sejak terpilihnya kembali Presiden Mwai Kibaki pada bulan Desember 2007, lebih dari 1.100 orang tewas. Kenya menjadi hancur berantakan, banyak terdapat kekerasan, pemerkosaan, pencurian, korupsi, perampasan tanah dan lainnya.
Malam hari nya pukul 10:00 pm, Nairobi. Boniface dan team melakukan sebuah hal ilegal, mereka membuat graffiti yang digambar oleh Uhuru, seorang Graffiti Artist. “Kenya adalah salah satu negara yang paling indah di dunia namun Kenya pengecut. Kami mengeluh banyak hal mengenai korupsi, impunitas, perampasan tanah, tapi tidak melakukan apapun tentang hal itu. Jadi kami datang kesini untuk melanggar hukum dan mengatakan yang sebenarnya dengan membuat graffiti ini,”  ujar Boniface.  Graffiti yang dibuat mereka adalah cerita tentang Kenya soal kasus yang menimpa Kenya, sekaligus pemimpin yang mereka inginkan, mereka ingin merebut kembali negara nya. Graffiti adalah suatu operasi besar dan kompleks, ini bisa mewakili semua nya, dan team berhasil menghindari perhatian polisi. “Saya tidak sabar untuk datang lagi pagi-pagi kesini pukul 10 untuk melihat respon mereka seperti apa”, “negera kita menerapkan hukum selektif, jika Anda lemah dan miskin, mereka akan datang dengan kekuatan penuh, jika Anda kaya dan dan Anda telah mencuri uang banyak, mereka menawarkan perlindungan,” ujar Boniface.
Esokan hari nya, pukul 07:00 pagi sudah banyak orang yang melihat graffiti mereka. Mereka yang melihat tulisan sekaligus gambar tersebut merasa diputar otak, mereka sadar, merasa gagal dalam memilih pemimpin, karena ini semua mereka yang memilih.
Seminggu kemudian, hal tersebut merupakan berita nasional, para polisi mencari mereka yang bertanggung jawab. Sudah banyak graffiti dan tulisan yang berbentuk slogan mencoret dinding Nairobi. Boniface dirilis tanpa biaya. Mereka ditutupi Mathere, kumuh dilanda dengan kekerasan setelah pemilihan terahir Kenya pada bulan Desember 2007. Karena Boniface dulu nya seorang wartawan foto jurnalis, hasil foto dia tentang kekerasan tahun 2008 saat itu telah memenangi penghargaan global. Mwai Kibaki dinyatakan presiden setelah pemilu tahun 2007 bulan Desember. Saat itu oposisi diperebutkan hasil, yang mengakibatkan kekerasan etnis yang luas. Selama terjadinya kekerasan tersebut,  lebih dari 1.100 orang tewas dan 600.000 orang mengungsi. ICC menyelidiki para politisi atas peran yang dimainkan memicu kekerasan, mereka dituduh suku  konflik dan mempersenjatai.
Hasil gambar dan foto yang berhasil diambil Boniface saat peristiwa itu terjadi membuat dia untuk tidak tinggal diam, dia akhirnya mengumpulkan semua foto saat itu yang kemudian akan dipajang dan dipamerkan di jalanan. Dia memamerkan foto-foto nya di 20 kota yang ada di Kenya sejak 2009. Lebih dari 700 ribu orang melihat pameran tersebut dan lebih dari 60 ribu orang telah menandatangani janji untuk berdamai. Naivasha, 85 KM dari Nairobi, lain izi pameran dicabut seminggu kemudian.  
Boniface dan team nya menyiapkan untuk foya graffiti berikutnya meskipun resiko penangkapan. Resiko ini sudah siap diterima mereka dalam aksi-aksi nya. Dia mengambil pameran kembali di jalan menjelang pemilu berikutnya tahun 2013. “Kami memberitahu orang-orang, kita perlu memilih dengan bijak dan menyembuhkan negara ini.” Kata Boniface. Hasil tulisan dan graffiti yang mereka buat selalu dibersihkan kembali oleh petugas kebersihan, pemerintahan nya juga tidak menggubris tulisan mereka yang penuh arti itu. Setelah aksi graffiti yang dibuat, pagi hari nya Boniface dan team kembali melakukan aksi terbesar mereka, 49 peti mewakili setiap tahun. Mereka berencana untuk membawa peti mati ke parlemen sementara (MPs) dalam sesi. Peti mati itu masing-masing diberi label dengan skandal yang ada di Kenya dan sejarah negara tersebut. Njeri Mwangi, istri dari Boniface mendukung aksi ini. “Kita tidak boleh kehilangan harapan, karena perubahan tidak akan datang hanya semalam, mungkin apa yang saya lakukan hari ini akan dicapai dengan anak-ku, mungkin ini terjadi lebih cepat daripada nanti.” Ujar Boniface. Aksi ini dibuat oleh Boiface dan team nya, aksi ini meupakan bentuk kesdaran salah satu warga Kenya yang menginginkan negara nya kembali seperti dahulu, hidup dengan kedamaian. 

Rabu, 13 Februari 2013

BANDUNG, 6-9 Feb 2013!

Halo semua! Kali ini gue mau cerita tentang liburan gue sama tiga orang sahabat gue, Indri, Uta dan Hesi. Liburan kuliah cerita nya cuma dua minggu gitu buat UMN (kampus gue). Seminggu pertama gue dirumah aja, palingan gue main kemana-mana sama temen-temen gue. Nah seminggu nya lagi gue pake buat liburan sama tiga sahabat gue dari SMP sampe sekarang! Sebenernya, rencana liburan ini udah kita rencanain dari pas gue UAS gitu, gue emang pengen banget nginep di kos-an temen gue yang namanya Indri, dia kuliah di Telkom, Bandung. Dan dia nge kos di deket kampus dia gitu, kampus nya di Buah Batu, Bandung. Awal nya rencana gue sama temen gue yang lain cuma mau nginep aja di kos an Indri, tapi kayanya nggak afdol kalo ke Bandung tapi ngga jalan-jalan ngunjungin tempat yang ngga biasa. Gue disana sih tepatnya wisata kuliner hahahaha. 

Hari pertama, 06 Feb 2013.
Gue, Uta dan Hesi berangkat dari BSD naik Travel, abis nya kalo bawa mobil gue ngga dibolehin, Hesi juga, Uta juga (iyalah mana boleh, orang ke Bandung -_-) dan kita juga males sih males banget. Yaudah sekitar jam setengah 10 pagi kita udah standby di tempat Travel yang ada di BSD. Selama diperjalanan, gue ngga tenang banget, pertama, Travel yang kita naikin itu ngebut banget asli (bagi gue), trus ditambah lagi gue dapet kabar kalo matakuliah Sosiologi Komunikasi di apus. GILA AJA GUE LAGI DI TRAVEL DAPET KABAR KAYA GITU, PANIK LAH! hm. Oke terus gue minta tolong temen gue kalo tambah ganti KRS, Eh dan yang lebih nyesek nya lagi.... MATKUL ITU GAJADI DIAPUS SEDANGKAN GUE SAMA TEMEN GUE UDAH NAMBAH MATKUL!! kesel banget asli, hahh tapi gapapa untungnya dapet dosennya enak :p (malah curhat soal kampus, orang ini mau ngomongin liburan -_-). Yaudah... lanjuuut! akhirnya kita sampe kos-an Indri itu jam dua siang lah kira-kira, kita disana istirahat dulu, baru deh malem nya kita cari makan, karna kita ngga ada kendaraan dan belom nyewa mobil, akhirnya kita naik taksi deh (gaya) tapi taksi disana muraaah ngga kaya disini, huft banget! Abis makan bubur, kita langsung cusss ke Suga Rush, tempat makan ini ada nya di Asia Afrika, Braga gitu deh (nama tempat di Bandung) disana kita ngobrol-ngobrol dan makan sampe jam 11 malem kita baru balik ke kos-an Indri. 

Hari Kedua, 07 Feb 2013. 
Jam 11 siang gitu kita langsung janjian sama orang yang punya penyewaan mobil, kita ambil mobil sewaan jam 11, abis ituuuu langsung deh gue sama yang lain jalan-jalan, sebenernya ini sih namanya Wisata Alam.. gue sama yang lain makan dulu tuh di Giggle Box, tempat nya lucu,unik,bagus banget, makanan nya juga enak dan harga nya pun terjangkau! Nih gue share beberapa foto gue sama yang lain pas disana deh..

Kanan (gue) dan Indri, nunggu makanan!

Kanan(Hesi) dan Uta, sama lagi nunggu makanan.

Makanan yang Hesi pesen.

Maap yaa kalo gue nge share nya foto gue dan temen gue, bukan makanan dan tempat makan nya hahahaha.
Abis kita semua makan, kita lanjut lagi ke perjalanan berikutnya!

Abis itu, gue sama yang lain mutusin buat ke The Ranch, tempat ini juga enaaak bgt, dingin, terus bagus gitu deh pemandangannya, ada permainannya, trus kita bisa naik kuda pake baju coboy gitu, masuk sini juga murah banget, satu orang 5000 udah dapet susu murni! Murah kan? :p nih foto-foto nya : 




Karna ujan kita mutusin buat lanjut ke perjalanan berikutnya, tadinya kita mau ke Tangkuban Perahu tapi ujan dan kayanya ngga mungkin, akhirnya kita muter-muter gatau mau kemana hahaha sampe akhirnya kita makan dulu dipinggiran gitu, gue pesen ketan bakar dana wedang jahe susu, itu enak banget asli ngga boong! cocok banget kan dingin-dingin makan sama mkinum itu. Abis makan, akhirnya kita semua mutusin buat ke Boscha! tau kan, Boscha itu apa? ituloh yang waktu itu ada di film "Petualangan Sherina" hahaha pas itu kan lahi Hitssss bgt kayanya, eh yaudah kita kesana deh. Perjalanan kesana kita ngelewatin hutan yang ngga asing lagi, hutan ini dipake juga di Film Petualangan Sherina ahahaha! Sampe sana ternyata Boscha nya udah tutup, kita ngga bisa masuk ke dalem, yaudah kita diluarnya aja deh cuma liat lokasi nya, nih foto nya : 





Yahhh pokonya begitu deh adanya sayang banget kita ngga bisa masuk abis udah tutup juga huhuhu. Abis itu, perjalanan kita lanjut lagi ke Sushi Den (makan lagi). karena balik dari Boscha itu udah sore menjelang malem, dan perjalanan ke tempat selanjutnya itu jauhhh banget, dari lembang ke Bandung itu agak jauh loh. Sampe Bandung, eh sebenrnya di Dago tempat nya, tadinya kita mau ke Verde (tempat makan) gitu tapi rame banget asli males juga kesana ngga dapet parkir, yaudah akhirnya kita semua makan di Sushi Den. Gue pesen sejenis Takoyaki itu porsi nya gede banget dan harga nya juga terjangkau! Hahaha. 

Abis makan, kita sengaja tuh nunggu agak maleman, buat ke Maja House. Sekitar jam 9 malem kita semua lanjut ke perjalanan berikutnya! Gue banyak banget dapet kabar dari temen gue, "Lo harus ke Maja House, itu recommended banget" -_- gue penasaran banget kan, eh tau nya temen gue, Indri udah pernah kesana (sial). Nah yaudah karena dia apal jalanan kesana, dia nunjukin perjalanan deh.

Sampe Maja Hoiuse itu sekitar jam aetengah 11 malem, gue disana ngga makan (GILA AJA KENYANG BANGET). gue disana cuma minum, gue pesen Thai Green Tea gitu (beuh, enak banget, gatau lagi), trus Hesi pesen (Choco Lava) gue gatau itu bener apa ngga, tapi yang jelas itu ENAK BANGET GA BOONG! nih gue kasih liat : 

NAH INI NIH, LIAT COKLAT NYA! 

Dewa banget nih makanan, enak banget asli!

Uta dan Indri (si penunjuk jalanan).

Kanan (Uta) dan Gue -_-

Suasana di Maja House kalo malem.

Di Maja House itu kita sampe jam 1 malem lah, sampe cafe itu mau tutup hahaha soalnya itu hari biasa, makanya tutup nya cepet, kalo Sabtu Minggu itu katanya bisa sampe pagi (cailah). Asli gue kenyang banget, selama di Bandung gue makan mulu (tambah gendut aja gue).

Naaaah perjalanan terakhir kita itu ke Bukit Bintang (kalo anak Bandung denger tempat ini pasti opini nya udah beda) tapi gue ngga peduli, tujuan gue kesana cuma buat liat pemandangan Bandung di malem hari sama liat Bintang, titik! Pas kesana itu rame banget, banyak orang yang pada liat bintang, padahal perjalanan menuju kesana nya itu gilak serem bangeeet mana gelap, trus sepi banget. Mana kita cewek semua lagi, tapi saking penasarannya sama tempat itu, kita tetep mau kesana! Disana gue bener-bener kaget, tempat nya keren banget! Ini ga boong, ini beneran. Gue ngga lebay, tapi ini beneran keren! Selama gue ke Bandung, mana pernah gue diajak ke tempat-temapt bagus kaya gini. Padahal setiap pulang kampung gitu kalo lebaran, atau hari-hari besar lainnya gue selalu ke Bandung (ke rumah Nenek gue) tapi gue ngga pernah diajak ketempat bagus kaya gini sama keluarga gue *miris*. 

Abis puas ngeliat bintang sama pemandangan bagus kota Bandung dari atas, sekitar jam setengah 2 gitu kita pulang deh ke kosan temen gue (udah pada ngantuk dan capek) hem. Sampe di kosan, bener aja itu jam setegah 3 pagi dan kita semua......... TEPAR!

Hari ketiga (08 Feb 2013).
Pas tanggal segitu, kita bener-bener kecapean dan ngga kemana-mana, kerjaan gue sama yang lain cuma tidur, makan, dan itu di kosan temen gue. Bener-bener ngga kemana-mana, mager, capek, masih ngantuk dan blablabla lah.. lagian juga kita harus udah balikin mobil sewaan ahahaha. Pas hari ketiga ini, kita kalo makan delivery saking mager nya buat kemana-mana -,,-. Malem nya baru deh jalan cari makan. 

Hari Keempat (09 Feb 2013).
Nah, hari sabtu nya, Uta dan Hesi pulang, sementara gue harus tetep stay di kosan temen gue nunggu di jemput, soalnya gue harus ke rumah nenek gue yang ada di Bandung juga, sampe hari Minggu gue baru pulang. Uta sama Hesi pulang naik travel tanpa gue :( maaf yaaw wakakaka. 

Pokonya liburan kali ini seruuu sekali, walaupun cuma ke Bandung, tapi gue seneng banget, bisa menjelajah ke tempat yang belom pernah gue kunjungin. Sebenernya masih banyak yang mau diceritain, tapi kan ngga mungkin juga gue ceritain semua nya disini hahaha jadi itu inti nya aja! Terimakasih buat Indri, buat Kamar Kos-an nya sekaligus penunjuk jalan selama disana, Terimakasih juga buat Uta dan Hesi. Salam persahabatan! Hahahaha udh ah segitu dulu, dadah! Xoxo <3.